Posted in Random

Persimpangan Hidup: Masa Depan atau Masa Muda? (part 1)

Halo! Barusan dapet notifikasi kalau hari ini 1st Anniversary of The Unknown Journal 🥳🎉

Jujur, bangga banget sama diri sendiri karena ga pindah-pindah platform lagi dan bisa lumayan aktif nulis setahun ini. Hari ini, aku mau berbagi sebuah pengalaman yang ga pernah disangka sebelumnya, sekaligus mempertanyakan tujuan hidup aku kedepannya.

Dari kecil, orang tuaku selalu memberi hak untuk aku membuat keputusan sendiri dalam hidup, seperti mau masuk jurusan IPA/IPS, mau kuliah di jurusan apa, setelah kuliah mau ngapain, sampai mau kerja di perusahaan apa. Tapi, tentu aja ga lepas dari segala nasihat/ceramah mereka yang cukup sukses memberikan influence.

Satu contoh yang sukses adalah saat aku harus pilih jurusan di SMA: aku ingin banget masuk IPS, cuma karena ga mau ketemu fisika sih hehe, tapi jangka panjangnya pun aku emang ingin kuliah di bidang sosial bukan eksakta. Saat itu sampai agak debat karena aku ga berhasil luluh sama influence mereka.

Hari penerimaan rapot, sekaligus penentuan jurusan, pun tiba. Aku kira mereka udah nyerah bujuk aku masuk IPA (kita ga pernah ngomongin topik ini lagi), sampai ketiku guruku bilang “Indah nilainya bagus nih, masuk IPA kan?”, sebuah pertanyaan yang lebih terdengar sebagai statement buatku (sekarang kalian boleh banget bayangin wajah dua ibu-ibu yang sumringah sambil bahas seluruh benefit jurusan IPA🙂). Cukup lama obrolan itu berlangsung sampai akhirnya aku menerima jadi murid IPA.

[Sedikit disclaimer: aku suka minta/denger opini orang lain, sampai dikira aku tipe yang mudah di-influence, tapi semua keputusan yang aku ambil berasal dari pilihan sendiri setelah banyak pertimbangan dan perbandingan.]

Aku selalu mengira aku ini tipe yang spontan tapi setelah dipikir-pikir, aku tipe yang cukup well-planned. Memang aku nerima jadi murid IPA karena influence para orang tua tapi sesaat sebelum aku mengiyakan, banyak kemungkinan-kemungkinan yang sudah aku bayangkan dan persiapkan. Aku mulai mengubah rencana untuk mencoba masuk teknik lingkungan, kesehatan masyarakat, atau ilmu gizi. Walau pada akhirnya saat lulus SMA, aku balik lagi ke mimpi awal untuk kuliah di jurusan yang ga berhubungan sama IPA haha.

Selama memilih untuk kuliah di bidang Sastra hingga lulus, aku dapet dukungan penuh dari mereka. Ga pernah sekali pun aku denger mereka mempertanyakan “Kuliah jurusan Sastra mau jadi apa?” dalam nada yang merendahkan. Setelah lulus, aku yang memilih untuk liburan sampai wisuda pun dibiarkan (sesekali dikasih “insight” tentang kerjaan sih tetep). Puas meliburkan diri, akhirnya aku mulai mencari pekerjaan, dan dimulailah segala dorongan untuk aku memilih “pekerjaan yang stabil” aka bekerja di kantor mama bekerja hingga pensiun, yang hanya aku anggap angin lalu.

Dari semua jenis pekerjaan yang pernah aku apply, cuma satu yang agak ditentang oleh mama yaitu reporter. Saat dia tau aku dapet panggilan interview dari CNN, yang dia omongin cuma segala resiko buruknya. Sampai saat aku menginjakkan kaki di gedung Transmedia dan bahkan saat interview, aku benar-benar menghiraukan omongan mama. Tiba-tiba, kepala editor yang meng-interview bertanya, “Orang tua ngizinin kamu jadi reporter?” saat itu aku diem agak lama dan cuma bisa jawab iya dengan sedikit keraguan, dan ya sesuai dugaan: ditolak.

Sejak saat itu, aku yang selalu ingin jadi reporter mulai terjebak dengan pertanyaan “Sebenernya aku mau kerja apa?”. Aku jadi sering mempertanyakan keinginan dan kemampuan menulisku karena ga ada panggilan interview lagi di bidang itu. Dari yang awalnya fokus apply di bidang creative dan media, aku mulai sedikit menghindari bidang tersebut beberapa saat.

Akhirnya aku banting setir–apply internship di berbagai bidang, hingga pada Desember diterima sebagai seorang Copywriter. Anehnya, internship ini malah membuka minatku pada bidang Marketing, juga membuat aku semakin memikirkan masa depan. Banyak hal yang aku pelajari dan ingin aku pelajari ke depannya. Aku mulai ikutan online class, webinar, dan nonton live Ig/Youtube terkait minat.

Sebelum kontrak habis, aku udah berencana untuk mulai apply full-time job lagi. Di awal Maret, sebuah perusahaan farmasi ternama menerima lamaranku dan memanggil untuk interview. Esoknya, tiba-tiba ada telepon tawaran kerja dari sebuah start-up marketplace oranye kecintaan para pemburu diskon dan gratis ongkir. Seneng banget karena itu pertama kalinya aku dipanggil bukan apply! Merasa bangga juga karena dalam satu minggu aku ada dua jadwal interview untuk posisi yang sama dengan internship-ku.

Namun ternyata pandemi menyerang. Di start-up marketplace aku sedang menunggu interview user, sementara di perusahaan farmasi aku tidak bisa hadir interview karena pandemi yang semakin memburuk. Semua panggilan kerja tersebut menghilang tanpa kabar, ditambah kontrak yang juga ga bisa diperpanjang. Di awal Juni, aku resmi menjadi full-time chef di rumah😅.

.

Wah baru setengah jalan tapi cukup panjang. Kisah pencarian kerja selama pandemi yang berakhir penuh kejutan (lagi) akan aku tulis di part 2 yaa!

Posted in Random

Boosting Confidence through Internship?

Setelah 6 bulan lebih sedikit, akhirnya buku perjalananku di PT Cerita Bahagia aka Bridestory ditutup.

Aku termasuk orang yang beruntung karena bisa merasakan kerja di dua gedung kantor (sebelum pindah ke Tokopedia Tower, kantor Bridestory ada di dalam mall Belleza Shopping Arcade). Dari yang awalnya masuk kantor rasanya penuh banget sama orang, sampai masuk kantor kok orangnya jadi dikit, perbandingannya sekitar 1 ruangan vs 1 lantai, sih!

Seperti masalah anak muda baru lulus pada umumnya yang merasa galau mau kerja linear pendidikan atau terjun ke hal yang benar-benar baru, bahkan terkadang sangat clueless “setelah lulus gini gue kerja apa ya?”. Email notifikasi kalau aku diterima di Bridestory saja rasanya nano-nano. Yakin mau kerja di sini? Apa akan betah? Cuma internship emang bakal dapet apa sih? dan beragam pikiran semacam.

Berbekal memantapkan diri dan hati untuk terjun ke dunia yang sebenarnya, aku pun memulai lembaran buku perjalanan pekerjaan ini sebagai seorang Product Copywriter Intern. Seluruh bayangan akan dunia pekerjaan yang berat rasanya hilang begitu saja.

Bekerja pasti lelah dan ada momen stress ketika stuck, tapi banyak hal yang bisa dilakukan buat naikin mood lagi kok! Dari hal kecil seperti jalan-jalan sore beli jajanan, dapet makanan/minuman gratis, sesi curhat di pantry, admiring artis yang datang ke kantor, sampai dapat apresiasi/good feedback dari atasan. Kamu mau fokus di bagian stress kerja atau appreciate hal-hal kecil di sekitar? Pada akhirnya dirimu sendiri lah yang menentukan kebahagiaanmu.

Impact besar yang aku dapat dari internship ini adalah aku jadi percaya diri dalam bekerja. Seperti yang aku tulis sebelumnya tentang kegalauan bekerja, itu hal wajar dan pasti sebagian besar lulusan baru rasakan. Tidak apa merasa begitu, jangan merasa down dan jadi menutup kesempatan yang datang. Mulai saja dari internship, minimal kamu bisa merasakan rasanya bekerja. Setelah itu, kamu bisa mulai explore skill dan interest kamu. Selama bekerja sebagai copywriter, selain belajar menulis dan berpikir kreatif, aku juga belajar banyak tentang CRM, Marketing, Business, Product, dan bahkan jadi tertarik belajar coding! Tentu aku belajar semua itu ngga sendirian, tapi aku dapat banyak insight dari orang-orang di masing-masing departemen tersebut. Tambah skill, tambah relasi, asik kan? 🙂

Lalu, kenapa internship bisa membuat aku percaya diri? Tentu karena pengalaman yang aku dapat. Pernah merasa ngawang ketika menjawab interview? atau cuma bisa menjawab hal-hal general saja? Terkadang itu terjadi bukan karena kamu kurang pengalaman tapi antara pengalaman organisasi/panitia dan pengalaman bekerja memang berbeda. Buat aku, pengalaman organisasi/panitia sangat ngebantu develop interpersonal skill sedangkan pengalaman kerja lebih condong ke hard skill–kamu belajar menggunakan tools, mengubah data jadi hasil, mengembangkan/menjual produk, dan lainnya sesuai departemenmu. Singkatnya, aku jadi tau apa yang aku (akan) kerjakan jika aku melamar di bagian A/B/C, sehingga aku bisa menjelaskan berbekal pengalaman yang aku punya (walau hanya sebagai intern).

Teruntuk kalian yang merasa “takut akan dunia kerja”, ayo bangun & mulai cari internship! Siapa tau, setelah itu kalian juga akan terbuka pikiran dan matanya seperti aku!

P.S: Sejujurnya nulis ini rasanya berat. Aku harus last day di masa working from home. Aku ngga bisa ngucapin terima kasih dan semangat secara langsung ke orang-orang yang udah bantu isi buku perjalananku ini jadi menyenangkan. Mungkin aku akan nulis pengalaman detailnya setelah mulai working from office lagi supaya aku bisa masukin foto bareng mereka 🙂

Posted in Gallery

[GALLERY] Quarantine Special: Homemade Food✨

3 bulan “terkarantina” di rumah ternyata tidak seburuk yang aku kira. Hobi lama pun kini bersemi kembali dan bahkan sekarang aku bisa take over jadi chef di rumah (haha).

Post ini aku dedikasikan sebagai galeri masakan~ (akan terus aku update setiap ada masakan baru!)

Paket Lengkap: Nasi Goreng Kimchi – Bibimbap (Nasi Campur Korea) – Nasi Ayam Mentega dan Brokoli

La Zuppa: Sundubu Jjigae – Budae Jjigae

The Complement: Oseng Buncis Telur – Ayam Lada Hitam – Tumis Kangkung Tempe – Sosis Tempe Kecap

The Munchie: Roti Panggang Gula & Kayu Manis dengan Pisang – Bolu Pisang – Sup Buah Yogurt – Roti Maryam Oreo

Beberapa foto kualitasnya agak kurang karena diambil dari foto dan di-crop. Ada beberapa masakan yang ngga terfoto juga 😦

Ohiya, semua resep berasal dari Instagram/Youtube yang sudah termodifikasi dengan bumbu-bumbu di dapur rumah. Apa buat kategori blog resep masakan juga ya?🤔

Posted in Entertainment

I Need The Fourth Book of Touché!!

This teenlit made me fall at first sight. Karya Windhy Puspitadewi ini ringan, menarik, dan cocok banget buat para penggemar riddles!

Seperti yang bisa dilihat dari cover, saat ini ada tiga buku dengan urutan judul Touché, Touché Alchemist, and Touché Rosetta, ber-genre crime, mystery, fantasy, dan tak ketinggalan bumbu romance ala remaja. Meski membawa genre yang cukup berat, ceritanya tetap mudah diikuti. Sejujurnya, plot di tiap buku mirip, tapi tetep menarik karena karakter dan latar belakang ceritanya berbeda (there’s recurring characters too!).

I will review it per book~

Touché

Buku pertama dan dengan plot yang paling ringan. Berfokus pada keseharian 3 murid SMA bernama Riska, Indra, dan Dani yang mempunyai kemampuan lebih melalui sentuhan. Seperti judulnya, Touché, the supernatural power which the characters possess come from their touch. Sejak kedatangan guru baru bernama Yunus, mereka dipersatukan dan mulai mengenal tentang dunia Touché yang berujung pada pertaruhan nyawa mereka.

I’ll stop explaining the plot here cause I hate spoiler. Karena membawa genre crime, buku ini menceritakan sebuah kasus penculikan Pak Yunus dan ketiga tokoh yang berusaha keras menyelamatkan guru mereka tersebut. Walau aku bilang ini teringan, sejujurnya aku baru berhasil menebak pelakunya hampir di akhir cerita! And. It’s. A. PLOT. TWIST! Seketika merasa bodoh karena tidak sadar (padahal clue bertebaran😂). Seri ini juga yang romance-nya paling kentara.

Sebagai pembuka seri Touché, buku ini did a really good job explaining the world of Touché for the readers. A lil’ trivia: buku ini ada versi komiknya loh!

Touché Alchemist

Berharap buku ini melanjutkan kisah asmara karakter di buku pertama? Sayang sekali, dari Indonesia kini penulis membawa pembacanya untuk mengenal seorang karakter dari negeri paman Sam. Menceritakan seorang anak genius bernama Hiro yang kerap dimintai tolong polisi untuk membantu menyelesaikan kasus (dengan kepandaian+kemampuan lebihnya ofc).

Jika buku pertama membawa tema penculikan, buku ini menceritakan tentang kasus pengebomam berantai yang terjadi di New York. Surprisingly, aku berhasil menebak pelakunya dengan sangat cepat (walau tidak terlalu yakin karena aku tidak terbayang motifnya sama sekali). Berbicara tentang motif, aku sedikit kesal dengan motif pelaku karena terlalu “segitunya?”, tapi pelaku membuktikan kalau jalan pikiran manusia memang bisa sangat tidak masuk akal.

Ohiya, I said about recurring character right? Tokoh itu adalah Yunus King! Yunus bisa dibilang tokoh sentral dari seri Touché ini. Sayangnya, di buku kedua dia hanya cameo yang ‘numpang’ memberi bantuan tokoh utama dalam menyelamatkan perempuan yang ia sukai. Di sini, romance-nya mild dan baru benar terlihat di akhir buku. Plot wise: semakin menarik!

Touché Rosetta

Penulis kembali membawa pembacanya terbang ke negara yang terkenal akan dunia sihirnya, Inggris (Hello, Potterhead👋). Mari berkenalan dengan Edward yang materialistis. Ketika dua buku sebelumnya menceritakan para tokoh yang sebisa mungkin menyembunyikan kemampuan mereka, lain halnya dengan Edward yang tak sengaja ‘pamer’ dan berujung mengkomersilkan kemampuannya kepada seorang profesor di British Museum.

Buku ketiga ini favoritku! Ketika baca buku ini langsung teringat gaya cerita Rick Riordan yang menyelipkan cerita fiksi pada sejarah dunia. I love how the writer put some stories into world’s influential people! Sebenarnya dari buku pertama pun penulis sudah mention hal ini, seperti Casanova merupakan kaum Touché, tapi di buku ini semakin kentara karena kasus yang diangkat adalah pembunuhan berantai kaum Touché. Pembunuh mengincar buku berisi rahasia keberadaan kaum Touché yang ternyata sudah ada lama sekali. Ah, let’s stop here before I spilling too much.

Bagaimana semakin menegangkan dan menarik kan? Di buku ini Yunus kembali berperan aktif dalam jalan cerita, beberapa karakter dari buku kedua juga muncul di bagian akhir cerita (tentu ada Hiro!). Sayangnya, aku merasa romance di buku ini kurang natural dan terburu-buru. Namun, plot twist-nya sangat WAH. Tokoh yang dari awal aku ragukan malah tidak banyak diceritakan oleh penulis, sedang pelakunya benar-benar bikin lempar buku 🙂

Overall

Sejujurnya saat selesai baca buku pertama, I’m impressed but not so into it. Hanya merasa seri ini punya plot menarik dan beda dari yang lain. Fortunately, aku langsung beli ketiga bukunya dan buku kedua really really hooked me up into reading the third one asap. Mau tau bagian paling menyenangkan sekaligus menyebalkan dari seri Touché ini? You will find a “To Be Continue” at the last page! People speculate ini proyek buku 3 tahunan (2011-2014-2017) dan harusnya tahun ini buku keempat terbit. BUT! There’s no news about it yet😭

I do really hope the writer could finish the fourth book and publish it this year, especially after you give me a HUGE TWIST AND CLIFFHANGER ENDING! I really recommend this book for you to kill boredom in this quarantine moment.

Posted in Random

An Ill-Fated Relationship?

Do you know, I have a mysterious and ill-fated relationships with…

courtesy: shop(.)spreadshirt(.)com

Yes, pineapple! A tropical fruits which are rich in vitamins, enzymes, antioxidants with many health benefits. But for me, the allergic reaction (or side effect, idk?) dominates the whole benefits.

It started when I’m in elementary, I guess. I went to have dinner in PH with my family and then, someone ordered a pizza with pineapple on it. I tried it, unknowingly ate a pineapple on pizza (to be honest I really can’t understand people who eat an unprocessed fruit with carbo??). After awhile, I finally recognize the strange thing on my plate and disposed the pineapple away. I’m still okay until 15-20 minute-ish later, my throat felt so dry and my lips were hot and a bit itchy (but still bearable).

Hence, I started to hate pineapple and considered it as my food allergy to avoid it as much as possible. Many people wonder how can I allergic to pineapple, especially when there are jars of Nastar in my house and yet I never tried it (until now😢). I know IT IS SO GOOD. I can imagine it, and recently I tried eating pineapple jam. Oh, of course unknowingly 🙂

It happened during my third year in college. My friend offered me to sample her home-made pie. It’s Christmas soon, I really want to have a pie instead. She explained all of the variants and I said yes when she said she has meat variants too, not just fruits. Thanks to my carelessness, I got the fruit pie as a sample. How stupid I am to think that she will give me the meat one just because I said okay when she explained the meat variant haha. When I opened it, I saw a dark yellowish color. I was afraid, but I tried to think positively that was not a pineapple pie (another stupid assumption I know, which fruit jam has dark yellowish color beside pineapple omg). I ate it and IT WAS SO GOOD I wanna cry. I can say that it was the first, the last, yet the best pineapple pie I had. I’d eaten half of the pie when I’m finally sure it was pineapple. But yeah, I kept eating it anyway haha. At first, I think it will be okay to eat the processed one aka a jam. Then 30 minute-ish later. my throat was soo dry and I started to feel feverish.

So, the jam version is a no no too I guess. To be honest it shaken me a lot after I know the pineapple jam is good. On several occasions, I really have the urge to try eating it again 😦

After suppressed it a lot, I give another chance to pineapple. I got a home-made fruit salad from my sister-in-law. And you know what, I almost–unknowingly–eat the pineapple, again. I’ve already put it on my plate so I must eat it (especially in this kind of situation, I don’t wanna risk anyone by sharing food). I disposed the pineapples and ate the rest. I could taste the pineapple tho. An okay time last until I went to bed room, watched a movie, and passed out. I’m not the type who can sleep easily and that time I couldn’t make myself awake. I woke up at 10 or 11 pm with a super dry throat (I drank 3 bottles of water, it’s not helping). I decided to ignore it (actually, I’m afraid it was corona instead of allergic reaction haha) and then washed my face, brushed my teeth, re-watched the movie, and slept again at 12-ish. Wow, I slept a lot that day👏

The next day, I woke up feeling sluggish with puffy eyes for a whole day 🙂 Thank God it’s weekend.

I really don’t know what’s wrong with me and pineapple. People won’t believed when I said I allergic to it, and neither do I. I did a lil’ research: pineapple is not in the list of food allergen, but the symptoms I had is the same with the side effects of having too much pineapple. The question is, I never have more than a bite of pineapple (fruit), but yeah for the jam is a whole pie actually haha is it a lot?

Just now, I ate the fruit salad again (after my mom disposed all the pineapples) and I’m still okay while I’m writing this blog. I got a dry throat as usual but not as long as before. I couldn’t taste any pineapple so I think I’m gonna be okay? Let’s see what will happen tomorrow! If I’m okay, must I give a chance to this relationship again? I still wanna try Nastar tho.

♥ 4.29.20.IT ♥

Posted in Entertainment

Can’t believed, I fall for Kingdom!

source: asianwiki

—– spoilers include —–

I actually find this movie by random picking, and at first I thought this is Kingdom (Japanese movie) last year when I prepared for my thesis defense. It has every elements which I not too keen, such as Colossal, Throne War, and Bloody Action/Gore, yet the Zombie theme really excites me, After watching season 1, I’m craving for season 2.

Let’s break it (just a lil’ bit) from Season 1!

From The Swoon’s Youtube titled [Behind the Scenes] The making of a Joseon zombie apocalypse, they called Season 1 as You Knew Hunger and Season 2 as Blood Will Spill. The video basically about season 2 highlights, please watch it after you finish season 1!

Season 1 basically just the beginning of man-turned-zombie thing. At first, I thought it because cannibalism, which fascinated me like WOW it’s new! Usually people becomes zombie because virus or such, right? But later, you’ll find out that the plague’s origin is a flower from medical physician’s journal.

To be honest, in the first episode, I’m not paying attention to what I watch because it’s about family/throne’s conflict between Lee Chang (the crown prince), the queen, and the queen’s father, Cho Hakju. The king’s rumored to be dead from sickness (it’s true tho), yet revived by his physician into zombie. Yes, the king is the very first zombie that this series introduced.

Lee Chang was forbidden from seeing his father by the young queen and then he decided to ventured out to Dongnae with Muyeong, his loyal guard (I can’t remember why he ventured, sorry) and then he discovered a village in ruins. Turns out, it because the villager turned into zombie after eating human-flesh soup. Then, Lee Chang started to fight the zombie who rise when the sun set down there and went to Sangju to meet Ahn Hyeon.

Season 1 ends with Lee Chang being chased down by the zombie who surprisingly still up in the middle of the day. Too much cliffhanger, I can’t handle really. There’s one plot about season 1 that I must tell, the young queen’s pregnancy was fake, instead she was feeding another pregnant women to claim their child as her later.

That’s it a (not so) lil’ detailed plot for season 1 haha the zombie fight is just so so, mostly it was just trying to escape fight. If you want to see a real fight, watch season 2. It’s more gruesome with many beheaded scenes. I don’t want to spill the plot too much for season 2 but I’m going to tell you the highlights.

  1. Seobi, the physician from Dongnae, will be the one who discovered many things about the zombies and the plague. Like why the zombies can show up in the middle of the day, the plague’s real origin, a way to not-turn-into-zombie-when-bitten-by-them, the actual reason villager in Dongnae become zombie, and many more. Please root for her she is the only clever person in the series!
  2. Muyeong’s betrayal which leads to his sad ending 😭 WHY MUYEONG?? I understand the reason you do that but why you believe them?? It won’t go as you want, you know that!
  3. Ahn Hyeon, the character who I thought I will resented (he looks suspicious and ready to ‘kill’ Lee Chang tho), turns out the one who helps him the most, until his very end, twice. 😭
  4. Beompal stole my heart so fast with his character! From the one who good-for-nothing to someone with bigger role in the future. His presence uplifted the tense-zombie scene, especially in the finale ❤︎
  5. The queen’s claimed-son was Muyeong’s son with a real royal blood (?), actually I still don’t understand this part, maybe I’ll know better when I watch it again.
  6. Ah, suddenly I remember Seobi’s tremendous act to save the son from zombie’s horde, SHE PUT FIERY CAPE OMG

Okay, it’s not highlight, it just my favorite scenes HAHA. The blood really spill in season 2, many. It much more interesting and playing with your emotions. Lee Chang literally lost everything and gain nothing from this whole mess 😦 imagine, after you fight zombie’s horde all-night long and then you back and being asked “what happen to you last night?” wow, ignorance is a bliss indeed.

Thank God, season 2 end with a rather happy ending, and not a cliffhanger one! The plague stops for 7 years (in the end you’ll see the plague will soon spreading again), Lee Chang mature version was so hot (sorry haha), and Jun Jihyun’s cameo for her upcoming character in the series! So excited for season 3!

You know, I just realized that the original story for this series is from YLAB’s webtoon. Like, everything just make sense now–now I know why I like this story! HAHA It makes me wondering about the son’s name tho, if he is the Jyu, then it will become more interesting later I bet.

Last word, please watch Kingdom!! It’s not my usual genre for drama yet I recommended it for you guys, so WATCH IT NOW OKAY?!

Posted in Random, Trip

SS8 Jakarta [2/2]: Meet My Long-Lost Idol Again

Ga sekali dua kali gue ditanya, “Ndah, penyanyi yang lo suka siapa sih?” mungkin karena playlist lagu gue super random? Nah, sesuai mood sih lebih tepatnya. Kalau di Spotify, di bagian Liked Songs gue barulah sangat-sangat random. Lagu Indo, Barat, Korea, Jepang, China, Thailand, Latin, semua ada!

Ada beberapa konser yang gue datengin karena suka penyanyinya but mostly bukan konser tunggal penyanyi itu. Hm, I think hampir semua konser mix penyanyi minus ketika gue nonton Kunto Aji deh hehe sisanya band kampus soalnya. Satu-satunya penyanyi yang gue willingly spend money to buy their albums and go to their concert ya cuma Super Junior. Rasanya jauh lebih worth it aja nonton konser mereka. Maybe because they are boyband and have many members. But sekarang I’m not into albums anymore, thanks to digital era.

Terakhir gue nonton konser Super Junior itu saat SS4 tahun 2012. That’s also my first concert so it feels so special for me! Setelah itu satu per satu member menghilang. Either wamil or just disappear because one and other things. Member hilang, keinginan gue untuk nonton konser mereka juga hilang. Sampai akhirnya mereka bener-bener comeback di tahun ini (minus Heechul sayangnya😞).

Sejak SS7S sebenernya udah ingin beli tiket namun sayang miss di tanggal dan baru kesampaian di SS8 ini setelah kebimbangan tiada akhir dan hampir miss tanggal lagi (gue kira tanggal 11 Jan ada acara, taunya di bulan Feb haha bodoh). Akhirnya bisa mengobati kerinduanku melihat mereka di panggung secara langsung lagi!

Sampai di venue sekitar setengah 9 pagi dan buru-buru ke ticket booth di Hall 5 untuk nuker tiket bareng teman satu trip. Antrian penukaran tiket ga seramai yang gue bayangkan dan cuma memakan waktu sekitar 10-15 menit. Masih ada waktu sampai open gate di pukul 11.00 WIB. Kami putuskan untuk cari makan dan ternyata ada satu komunitas yang bagi-bagi breakfast gratis untuk penonton (Thank you so much!).

freebies – project banner&flagticket

Seharian ini yang kami lakukan hanya menunggu. Open door ke venue pukul 13.00 WIB dan setelah masuk venue pun kami masih menunggu sampai konser dimulai pukul 15.00 WIB. Konser belum mulai saja rasanya udah capek duduk-berdiri terus. Tapi dengan keajaiban lampu yang dimatikan (tanda konser segera dimulai), tenaga seakan ter-recharge~

Seperti biasa, Super Show dibuka dengan VCR+Super Man yang selalu bikin merinding di part [결국 슈퍼주니어 The last man standing]. Setelahnya, The Crown berkumandang, menjadi opening song SS8. Seperti liriknya, [I’m ready for you now,] SS8!!❤

Gue sempet nonton beberapa video SS8 Seoul di Youtube dan ada anggota trip yang share list lagu jadi sedikit-banyak gue udah tau lagu apa aja yang akan dibawakan. Title song yang dibawa hanya dari Sorry, Sorry and of course sampai album Time Slip. Terlalu banyak momen berkesan di SS8 (semuanya bahkan!), tapi bagian yang paling gue suka adalah hip-hop part yang too funny to watch dan encore part (Show bikin merinding dan Too Many Beautiful Girls yang too many fanservice haha).

Cukup puas dengan kerja promoter di konser ini (dari awal beli tiket udah agak parno karena konser EXO kacau banget), kecuali bentuk tiketnya yang terlihat murah (kertas bukan gelang) untuk harga jutaan. Ada sedikit kerusuhan saat open door section Time tapi langsung di-handle dengan baik. Oh, satu lagi, baru kali ini nonton konser dikasih opening iklan dari sponsor udah kayak bioskop 🙂

Udah itu aja. Gue SANGAT PUAS nonton SS8 ini dan bahkan sudah terbesit di otak gue untuk nabung supaya bisa nonton SS9 di spot terbaik!✨ Thank you untuk semua yang sudah berkontribusi sehingga gue bisa bertemu lagi dengan my long-lost idol, SUPER GA MENYESAL!

Posted in Trip

SS8 Jakarta [1/2]: Ikut Trip Konser!

with Sarang Kpop Trip members

Menutup tahun 2019 dengan membeli tiket Super Show 8 dan mengawali tahun 2020 dengan nonton konsernya is my biggest hesitation yet a turning point to start afresh.

Setelah merasakan dapet uang sendiri tuh kalau mau spend money on something jadi mikir berkali-kali lipat: “is it worth it?”, “do I really need it?”, “do I have something more urgent?”, and many more. Akhirnya mengurungkan niat untuk nonton dengan keadaan sudah booking tiket berulang kali (tapi ga dibayar).

Lewat tanggal 6, tiap hari selalu buka Traveloka untuk cek tiket dan ternyata section Tribune E-L-F sold out, disusul section Infinite A-B. Makin sedih karena sudah kehilangan spot terbaik. Namun, hasutan terus datang dari orang-orang, menyuruh saya nonton saja. Nanti menyesal, katanya. Terlebih, ini konser comeback mereka setelah semua member selesai wamil.

Di tanggal 10, iseng liat-liat trip konser dan sampai di akun Sarang Kpop Trip saat scrolling di Insta. Setelah menemukan trip ini, entah kenapa hasrat untuk pergi nonton konser langsung naik dan ketika tau masih ada slot untuk ikut trip konser SS8, gue langsung beli tiket tanpa pikir panjang 🙂

Because this is my first time joining a concert trip, I’ve many expectations (thanks to friend’s testimony too). Semakin dekat hari konser, malah jadi takut ikut trip sejak baca satu kasus konser trip EXO. Fortunately, anggota trip kelihatan asik setiap ngobrol di grup jadi lumayan tenang. Bahkan ada anggota yang berbaik hati minjemin subongnya ke aku❤

Hari H tiba dan rasanya deg-degan banget! Seminggu sebelumnya, sempet kenalan dan chat sama salah satu anggota trip, janjian tuker tiket dan nonton bareng karena section kita sama. Tapi karena dia datangnya mepet jadi ga sempet ngobrol dulu sebelum naik bis. Penjemputan trip ini dari Cikarang-Tambun-Bekasi jadi sambil nunggu bis datang bisa ngobrol sama anggota lain.

Ohiya, Sarang Kpop Trip ini biayanya Rp 150.000 per orang (dapat potongan kalau kamu ajak teman), sudah include makanan ringan (tadi dapet roti & 2 snack), minum, freebies (photocard & random gift-I got pop socket), dan akomodasi pulang pergi (bis). Sejujurnya sedikit kecewa karena hanya dapat makanan seperti itu.

Gue kenalan sama beberapa orang dan rata-rata sudah pada bekerja dan punya anak, bahkan ada yang bawa anaknya ke konser loh! Salut sama kakak ini, ngeracunin anaknya dengan Suju sedari dini 👏. Lucunya, yang dari pagi gue ajak ngobrol malah jadi teman selewat dan yang baru ngobrol deket-deket naik bis jadi teman nonton konser sebenarnya (antri bareng, foto-foto, masuk venue bareng) tapi sayangnya dia satu section beda side jadi ga bisa fangirling bareng. Conclusion: dari trip ini gue dapet dua temen nonton konser hehe.

I’m Ready For You Now~! 🎵

Belom conclusion deh hehe. Ikut trip ini asik banget dan buat yang ga punya temen nonton konser, ini bisa jadi salah satu pilihan supaya ga boring sendirian! At least ketika ngantri, kita punya teman ngobrol ya kan? Satu minus dari gue untuk trip konser ini cuma adminnya kurang aktif. Gue ga tau sih model kerja trip konser tuh gimana, cuma ekspektasi gue pihak admin bisa aktif bikin kita kenalan dan ngobrol sama anggota lain. Yang terjadi di trip yang gue ikutin ini, kita jadi agak bikin kubu based on entahlah gue juga bingung haha.

But, trip konser kali ini cukup menyenangkan dan akan selalu menjadi pilihan ketika gue harus nonton konser sendirian lagi😊

Posted in Random

#MATA: Aku dan Bis

Jumat, 6 Desember 2019

Jumat kemarin menandai seminggu (kurang sehari) saya mulai magang di sebuah perusahaan startup. So far, I enjoy working there. Bisa masuk siang, pulang sebelum langit gelap, dan bebas jalan-jalan adalah kuntji👍 But, semua itu akan berubah ketika kantor pindah gedung. Sepertinya akan asik sih di gedung baru dan lebih deket dari rumah, tapi jam masuk jadi sedikit lebih pagi dan pulang lebih malam 😦

Mengingat hari ini last day di kantor lama dan jam kerja cuma half day karena semua staf sibuk packing barang buat pindahan, aku berencana untuk datang lebih pagi. Namanya rencana ya hanya rencana kalau ga dijalanin kan? Pagi itu aku bangun jam 6an but couldn’t push myself to move because my stomach aches so much (thanks period). Akhirnya ke kantor cuma seadanya kaos+jaket+celana+sendal dan langsung cus ke halte.

Sampai di halte dan masuk bis langsung merasa aneh karena bisnya sepi banget padahal masih jam 7.50an (bis berangkat per 30 menit sampai jam 9 pagi). Bad feeling mulai menyerang ketika udah lewat jam 8 dan bis belum berangkat. That’s mean either bis jam 8 udah berangkat entah jam berapa atau emang hari ini lagi ga ada bis jam 8. Pupus sudah harapanku datang lebih pagi ke kantor 🙂

Akhirnya bis berangkat jam setengah 9. Cuaca lagi mendung banget dan mungkin karena itu juga makin banyak yang bawa mobil dan membuat jalan super macet. Jujur degdegan karena udah jam setengah 10 dan masih di bis (biasanya jam segini lagi nunggu ojol). Bukan takut telat sih karena pasti masih keburu, cuma ga enak aja belom seminggu kerja tapi dateng lebih telat dari pic aku kan? hehe.

Setelah bermacet-macet ria, akhirnya aku turun di halte Fx seperti biasa dan lanjut naik ojol. Jam menunjukkan 10 menit sebelum jam 10 dan ojol ini malah hampir nyasar. Padahal dari awal aku udah bilang ikutin maps aja tapi si bapak dengan hebatnya literally ikutin maps tapi cuma diliat (tanpa directions) dan bingung sendiri harus kemana ketika liat jalan masih pada ditutup buat satu arah. Untung aku yang buta arah ini udh cukup apal jalan, jadilah sampai kantor jam 10an dan aman karena kantor masih sepi.

Karena half day, jam 2 udah dibolehin pulang. Mumpung half day juga, aku rencananya mau nonton tapi temen aku ga bisa nemenin. Jadilah kita meet up aja dan keliling mal. Sejauh ini mood masih super bagus karena tadi happy liat orang-orang kantor pada excited pindahan dan aku bisa catch up with my friend. Dengan perasaan super bagus ini aku melanjutkan perjalanan pulang dengan bis yang fortunately ga pake nunggu lama + sepi jadi bisa bobo di jalan deh.

Baru banget posting betapa senangnya naik bis kosong di instagram, ditinggal tidur bentar eh bangun-bangun bis super penuh. Aku naik bis tujuan Bekasi Timur sih emang, dan ya populasi manusia Bekasi yang kerja di Jakarta tuh sangat banyak jadi ga heran sih. Menuju halte BNN aku dengan bodohnya mencoba untuk turun dan transit ke bis Bekasi Barat padahal udah liat keadaan bis seperti itu dan keadaan halte yang jauh lebih parah. Itu satu halte isinya penuh orang nunggu bis Bekasi Barat semua astaga.

Bis Barat lewat tapi cuma bisa menampung kurang dari setengah manusia di halte BNN. Setengah jam lebih berlalu dan bis Barat datang lagi hanya untuk menurunkan penumpang dan ga sampai 10 orang yang bisa masuk 🙂 Meanwhile, manusia di halte BNN mulai padat lagi. Di saat itu juga saya menyadari kalau gantungan tas saya (boneka bulu kesayanganku) patah dan hilang entah dimana. Sedih+sebel sama diri sendiri kenapa dengan bodohnya turun dari bis Bekasi Timur dan malah gengsi kalau mau naik bis Timur lagi. Setelah berantem dengan diri sendiri akhirnya ngalah sama pride buat naik bis Timur yang kebetulan datang ga lama kemudian.

Akhirnya hari ini aku sampai di rumah lebih malam dibanding hari biasanya. Padahal aku main cuma sampai jam 6an (sama kayak jam pulang kantor biasanya tapi jaraknya lebih deket) 😦