
Halo! Barusan dapet notifikasi kalau hari ini 1st Anniversary of The Unknown Journal 🥳🎉
Jujur, bangga banget sama diri sendiri karena ga pindah-pindah platform lagi dan bisa lumayan aktif nulis setahun ini. Hari ini, aku mau berbagi sebuah pengalaman yang ga pernah disangka sebelumnya, sekaligus mempertanyakan tujuan hidup aku kedepannya.
Dari kecil, orang tuaku selalu memberi hak untuk aku membuat keputusan sendiri dalam hidup, seperti mau masuk jurusan IPA/IPS, mau kuliah di jurusan apa, setelah kuliah mau ngapain, sampai mau kerja di perusahaan apa. Tapi, tentu aja ga lepas dari segala nasihat/ceramah mereka yang cukup sukses memberikan influence.
Satu contoh yang sukses adalah saat aku harus pilih jurusan di SMA: aku ingin banget masuk IPS, cuma karena ga mau ketemu fisika sih hehe, tapi jangka panjangnya pun aku emang ingin kuliah di bidang sosial bukan eksakta. Saat itu sampai agak debat karena aku ga berhasil luluh sama influence mereka.
Hari penerimaan rapot, sekaligus penentuan jurusan, pun tiba. Aku kira mereka udah nyerah bujuk aku masuk IPA (kita ga pernah ngomongin topik ini lagi), sampai ketiku guruku bilang “Indah nilainya bagus nih, masuk IPA kan?”, sebuah pertanyaan yang lebih terdengar sebagai statement buatku (sekarang kalian boleh banget bayangin wajah dua ibu-ibu yang sumringah sambil bahas seluruh benefit jurusan IPA🙂). Cukup lama obrolan itu berlangsung sampai akhirnya aku menerima jadi murid IPA.
[Sedikit disclaimer: aku suka minta/denger opini orang lain, sampai dikira aku tipe yang mudah di-influence, tapi semua keputusan yang aku ambil berasal dari pilihan sendiri setelah banyak pertimbangan dan perbandingan.]
Aku selalu mengira aku ini tipe yang spontan tapi setelah dipikir-pikir, aku tipe yang cukup well-planned. Memang aku nerima jadi murid IPA karena influence para orang tua tapi sesaat sebelum aku mengiyakan, banyak kemungkinan-kemungkinan yang sudah aku bayangkan dan persiapkan. Aku mulai mengubah rencana untuk mencoba masuk teknik lingkungan, kesehatan masyarakat, atau ilmu gizi. Walau pada akhirnya saat lulus SMA, aku balik lagi ke mimpi awal untuk kuliah di jurusan yang ga berhubungan sama IPA haha.
Selama memilih untuk kuliah di bidang Sastra hingga lulus, aku dapet dukungan penuh dari mereka. Ga pernah sekali pun aku denger mereka mempertanyakan “Kuliah jurusan Sastra mau jadi apa?” dalam nada yang merendahkan. Setelah lulus, aku yang memilih untuk liburan sampai wisuda pun dibiarkan (sesekali dikasih “insight” tentang kerjaan sih tetep). Puas meliburkan diri, akhirnya aku mulai mencari pekerjaan, dan dimulailah segala dorongan untuk aku memilih “pekerjaan yang stabil” aka bekerja di kantor mama bekerja hingga pensiun, yang hanya aku anggap angin lalu.
Dari semua jenis pekerjaan yang pernah aku apply, cuma satu yang agak ditentang oleh mama yaitu reporter. Saat dia tau aku dapet panggilan interview dari CNN, yang dia omongin cuma segala resiko buruknya. Sampai saat aku menginjakkan kaki di gedung Transmedia dan bahkan saat interview, aku benar-benar menghiraukan omongan mama. Tiba-tiba, kepala editor yang meng-interview bertanya, “Orang tua ngizinin kamu jadi reporter?” saat itu aku diem agak lama dan cuma bisa jawab iya dengan sedikit keraguan, dan ya sesuai dugaan: ditolak.
Sejak saat itu, aku yang selalu ingin jadi reporter mulai terjebak dengan pertanyaan “Sebenernya aku mau kerja apa?”. Aku jadi sering mempertanyakan keinginan dan kemampuan menulisku karena ga ada panggilan interview lagi di bidang itu. Dari yang awalnya fokus apply di bidang creative dan media, aku mulai sedikit menghindari bidang tersebut beberapa saat.
Akhirnya aku banting setir–apply internship di berbagai bidang, hingga pada Desember diterima sebagai seorang Copywriter. Anehnya, internship ini malah membuka minatku pada bidang Marketing, juga membuat aku semakin memikirkan masa depan. Banyak hal yang aku pelajari dan ingin aku pelajari ke depannya. Aku mulai ikutan online class, webinar, dan nonton live Ig/Youtube terkait minat.
Sebelum kontrak habis, aku udah berencana untuk mulai apply full-time job lagi. Di awal Maret, sebuah perusahaan farmasi ternama menerima lamaranku dan memanggil untuk interview. Esoknya, tiba-tiba ada telepon tawaran kerja dari sebuah start-up marketplace oranye kecintaan para pemburu diskon dan gratis ongkir. Seneng banget karena itu pertama kalinya aku dipanggil bukan apply! Merasa bangga juga karena dalam satu minggu aku ada dua jadwal interview untuk posisi yang sama dengan internship-ku.
Namun ternyata pandemi menyerang. Di start-up marketplace aku sedang menunggu interview user, sementara di perusahaan farmasi aku tidak bisa hadir interview karena pandemi yang semakin memburuk. Semua panggilan kerja tersebut menghilang tanpa kabar, ditambah kontrak yang juga ga bisa diperpanjang. Di awal Juni, aku resmi menjadi full-time chef di rumah😅.
.
Wah baru setengah jalan tapi cukup panjang. Kisah pencarian kerja selama pandemi yang berakhir penuh kejutan (lagi) akan aku tulis di part 2 yaa!






























