
This is not a superhero movie, this is a movie about superhero.
– someone on twitter, 2019
I found someone tweet that and can’t help to agree. But for me, Gundala (2019) is a pre-Gundala movie. Ini adalah episode 0 atau kalau di komik/novel biasa disebut prolog.
Seperti biasa, review film ini hanya based on pengalaman dan perasaan selama aku tonton. Aku pun bukan pembaca komik Gundala orisinil karya Hasmi, namun sebelum akhirnya memutuskan menonton film ini, aku menyempatkan diri menonton Gundala Putera Petir (1981). Hanya untuk mengetahui cerita orisinilnya actually, but turns out it was interesting.
Plot wise, the 1981’s is more relatable and logical than the 2019’s. I like the idea about spreading a threat serum, but why you chose “Amoral Serum” from all kind of possible names you can choose. Moral bukan sesuatu yang bisa diukur dan bahkan tanpa disuntik serum itu pun, sebagian manusia memilih untuk amoral bukan? (haha). Agak menyayangkan kenapa ga memakai serum or drug pembangkit amarah seperti yang ada di webtoon? It is far more logical and developable. (For anyone who curious about the 1981’s plot, it is about an anti-morphine serum.)
Lalu, pace film ini lambat sekali. Joko Anwar keliatannya sangat fokus menceritakan tragedi kehidupan Sancaka, sampai aku kira ada perubahan dari cerita orisinil dan Sancaka sudah memiliki kekuatan Gundala sedari kecil. Ternyata salah. Pada akhirnya background story Sancaka yang sangat panjang tersebut tidak menghasilkan apa pun kecuali adegan pertemuan dengan Awang yang mengajarinya bela diri. Sisanya hanya membuat saya bertanya-tanya dan ber-“hah?”-ria. Banyak adegan yang sebenarnya tidak perlu dimasukkan tapi entah mengapa dimasukkan padahal tidak berpengaruh terhadap plot kedepannya.
Tapi semua itu termaafkan karena kegemasan Sancaka kecil dan ketampanan Sancaka besar (haha bercanda). Aku suka banget sama karakter Pengkor. Background storynya bahkan diceritakan dengan jauh lebih baik dibanding milik tokoh utama. Sayang, anak-anak bapak kurang diceritakan, dan pertarungan mereka dengan Sancaka pun sangat sangat seadanya. Setidaknya aku butuh proper introduction for the upcoming villains (or could be allies), bukan hanya individual shoot about their job/speciality. And, I wish Pengkor have a grand finale, ga cuma mati ketembak gitu aja😔
Pada akhirnya Gundala (2019) rasanya lebih tepat kalau diberi judul Sancaka. The plot was really just focusing about Sancaka’s journey becoming hero (from what Ghazul said, he wasn’t even aware that he is Gundala). Sancaka hanya tau kalau petir bisa membuatnya kuat, belum bisa mengendalikan petir, dan masih bertumpu pada kemampuan bela dirinya. A typical human who acts as local hero, right? Not a superhero yet.
Berbicara soal Ghazul, dia benar-benar menaikkan mood saat menonton karena membuat kita berekspektasi tinggi (lagi) akan film selanjutnya (of course Sri Asih too!). Tapi yang sedikit miss adalah Ghazul yang dari awal bersama Pengkor, di tengah cerita bergerak sendiri dengan memanfaatkan Ganda untuk kepentingannya. Jadi Ghazul ini anak durhaka yang ga mau bantu bapaknya begitu?
Oh, yang membuat aku bingung (banget) adalah there is no secret in this universe? Bagaimana bisa Ridwan mendapat nomor Sancaka (yang pertama kali ia temui dalam wujud Gundala), begitu pula dengan Pengkor yang datang ke tempat kerjanya, dan Ghazul yang mengambil darahnya di tengah perkelahian? Like, how could they possibly now that Sancaka is the hero?
Lalu kostum Gundala tuh fungsinya cuma sebagai penangkal/penyerap petir ya bukan untuk menyembunyikan identitas? He didn’t fucking care if people know his identity. Atau karena dia belum menjadi Gundala jadi dia cuek? About costum, I’ve read that Joko Anwar bilang dia mau membuat Gundala yang make sense sih (kostumnya ga turun dari langit atas pemberian Raja Petir seperti di 1981). But that means, Sancaka lebih seperti Spiderman ya bukan Thor.
Overall, film ini aku kasih nilai 7/10. It is a nice start for opening Jagat Sinema Bumilangit, and for that I give 0.5 points more. Why? Karena menurut aku fokus pembuat film ini sudah jauh ke depan (yang sayangnya jika dinilai dalam satu film akan kurang memuaskan), film ini benar-benar berfungsi sebagai pembuka jalan untuk film-film selanjutnya (hampir setengah key characters Jagat Sinema Bumilangit diperkenalkan di sini). So, it is 7.5/10.
Semoga film selanjutnya bisa mengangkat plot yang lebih matang dan menarik, ga cuma mengandalkan nama besar jajaran pemain aja ya!😉
