Posted in Random

#MATA: Aku dan Bis

Jumat, 6 Desember 2019

Jumat kemarin menandai seminggu (kurang sehari) saya mulai magang di sebuah perusahaan startup. So far, I enjoy working there. Bisa masuk siang, pulang sebelum langit gelap, dan bebas jalan-jalan adalah kuntji👍 But, semua itu akan berubah ketika kantor pindah gedung. Sepertinya akan asik sih di gedung baru dan lebih deket dari rumah, tapi jam masuk jadi sedikit lebih pagi dan pulang lebih malam 😦

Mengingat hari ini last day di kantor lama dan jam kerja cuma half day karena semua staf sibuk packing barang buat pindahan, aku berencana untuk datang lebih pagi. Namanya rencana ya hanya rencana kalau ga dijalanin kan? Pagi itu aku bangun jam 6an but couldn’t push myself to move because my stomach aches so much (thanks period). Akhirnya ke kantor cuma seadanya kaos+jaket+celana+sendal dan langsung cus ke halte.

Sampai di halte dan masuk bis langsung merasa aneh karena bisnya sepi banget padahal masih jam 7.50an (bis berangkat per 30 menit sampai jam 9 pagi). Bad feeling mulai menyerang ketika udah lewat jam 8 dan bis belum berangkat. That’s mean either bis jam 8 udah berangkat entah jam berapa atau emang hari ini lagi ga ada bis jam 8. Pupus sudah harapanku datang lebih pagi ke kantor 🙂

Akhirnya bis berangkat jam setengah 9. Cuaca lagi mendung banget dan mungkin karena itu juga makin banyak yang bawa mobil dan membuat jalan super macet. Jujur degdegan karena udah jam setengah 10 dan masih di bis (biasanya jam segini lagi nunggu ojol). Bukan takut telat sih karena pasti masih keburu, cuma ga enak aja belom seminggu kerja tapi dateng lebih telat dari pic aku kan? hehe.

Setelah bermacet-macet ria, akhirnya aku turun di halte Fx seperti biasa dan lanjut naik ojol. Jam menunjukkan 10 menit sebelum jam 10 dan ojol ini malah hampir nyasar. Padahal dari awal aku udah bilang ikutin maps aja tapi si bapak dengan hebatnya literally ikutin maps tapi cuma diliat (tanpa directions) dan bingung sendiri harus kemana ketika liat jalan masih pada ditutup buat satu arah. Untung aku yang buta arah ini udh cukup apal jalan, jadilah sampai kantor jam 10an dan aman karena kantor masih sepi.

Karena half day, jam 2 udah dibolehin pulang. Mumpung half day juga, aku rencananya mau nonton tapi temen aku ga bisa nemenin. Jadilah kita meet up aja dan keliling mal. Sejauh ini mood masih super bagus karena tadi happy liat orang-orang kantor pada excited pindahan dan aku bisa catch up with my friend. Dengan perasaan super bagus ini aku melanjutkan perjalanan pulang dengan bis yang fortunately ga pake nunggu lama + sepi jadi bisa bobo di jalan deh.

Baru banget posting betapa senangnya naik bis kosong di instagram, ditinggal tidur bentar eh bangun-bangun bis super penuh. Aku naik bis tujuan Bekasi Timur sih emang, dan ya populasi manusia Bekasi yang kerja di Jakarta tuh sangat banyak jadi ga heran sih. Menuju halte BNN aku dengan bodohnya mencoba untuk turun dan transit ke bis Bekasi Barat padahal udah liat keadaan bis seperti itu dan keadaan halte yang jauh lebih parah. Itu satu halte isinya penuh orang nunggu bis Bekasi Barat semua astaga.

Bis Barat lewat tapi cuma bisa menampung kurang dari setengah manusia di halte BNN. Setengah jam lebih berlalu dan bis Barat datang lagi hanya untuk menurunkan penumpang dan ga sampai 10 orang yang bisa masuk 🙂 Meanwhile, manusia di halte BNN mulai padat lagi. Di saat itu juga saya menyadari kalau gantungan tas saya (boneka bulu kesayanganku) patah dan hilang entah dimana. Sedih+sebel sama diri sendiri kenapa dengan bodohnya turun dari bis Bekasi Timur dan malah gengsi kalau mau naik bis Timur lagi. Setelah berantem dengan diri sendiri akhirnya ngalah sama pride buat naik bis Timur yang kebetulan datang ga lama kemudian.

Akhirnya hari ini aku sampai di rumah lebih malam dibanding hari biasanya. Padahal aku main cuma sampai jam 6an (sama kayak jam pulang kantor biasanya tapi jaraknya lebih deket) 😦

Posted in Random

#MATA: Terkadang, Mengikuti Rencana adalah yang Terbaik

Sebelum title ibukota Indonesia yang dimiliki Jakarta berpindahtangan, aku ingin mengumpulkan segala drama ibukota yang aku alami (dan akan, maybe haha) dengan tagar #Mata (Drama Ibukota–and later Drama Jakarta).

Formatnya akan seperti jurnal atau cerpen atau bagaimanapun nantinya, tergantung situasi yang terjadi saat itu lebih nyaman saya tulis seperti apa hehe.

Mari kita mulai dengan drama yang sangat fresh di memori.

Kamis, 31 Oktober 2019

Hari ini, aku punya janji untuk datang ke wisuda dua sahabatku sejak SMA. Mereka bilang kalau prosesi selesai sekitar pukul 12 siang (saat aku tanya sehari sebelum acara), namun ketika aku chat lagi (sekitar pukul 10 pagi, di hari-H) tiba-tiba temanku bilang untuk segera ke sana. “Cepetan ke sinii, udh mau kelar,” she said.

Awalnya aku membuat plan untuk naik bus trans ke Jakarta pada pukul 11 pagi yang membutuhkan waktu sekitar 40 menit untuk sampai ke Sudirman dan lanjut naik ojek online ke venue. Voila, aku akan sampai sebelum pukul 12 siang. Namun, karena chat tersebut, aku langsung putar haluan naik kereta yang ‘biasanya’ memakan waktu lebih sedikit.

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke stasiun sekitar pukul 11 kurang. Sesampainya di stasiun, aku mendapati fakta bahwa kereta ini sedang ngetem hingga pukul 11.22. Saat itu rasanya ingin keluar lagi dan pindah ke halte bus, tapi sudah kepalang tanggung. Setelah (sedikit) panik dan berharap kereta ini tidak mengalami delay nantinya, akhirnya aku stay di kereta.

Kereta berjalan lancar dan hanya stuck sebentar saat mau memasuki stasiun Manggarai. Setelah itu aku langsung pindah jalur menunggu kereta tujuan ke Sudirman. Temanku yang tidak bisa hadir ternyata terus menelponku (ingin menitip hadiah) namun aku tidak sadar karena handphoneku ada di dalam tas. Saat itu pula aku melihat ternyata sudah pukul 12 siang. Fortunately, aku tidak perlu lama menunggu kereta dan langsung melanjutkan perjalanan.

Tidak sampai 5 menit, kereta tiba di stasiun Sudirman. Aku bergegas menaiki escalator dan exit di jalan raya Sudirman. Aku berjalan sedikit ke dekat jembatan transjakarta untuk menunggu ojek online. Waktu menunjukkan pukul 12.20 ketika aku menghubungi temanku. Dia sudah keluar, katanya. Oke, aku akan sampai sekitar setengah satu, pikirku.

Namun ternyata, drama dimulai. Setelah menunggu hampir 10 menit, driver meminta aku untuk meng-cancel order. Aku dengan sedikit panik campur sebal, tidak mau dong kalau harus menunggu driver selanjutnya. Driver baru menjelaskan kalau banyak jalan yang ditutup sehingga dia tidak bisa menjemput. Dengan berat hati akhirnya aku cancel. Tidak lama, aku mendapat driver baru yang jaraknya cukup dekat.

Matahari Jakarta saat itu sedang terik dan mengakibatkan handphoneku overheat dan sedikit error. Saat sedang bergumul dengan handphone yang touch screennya mengalami problem, aku mendengar seorang driver meneriakkan namaku. Otomatis, aku langsung menghampiri dan mengkonfirmasi (dengan namaku) lalu menaiki motornya. Sepertiga jalan, aku kembali melihat handphoneku dan mendapati driverku belum sampai lokasi pick up. Ah, kayaknya masih error nih, pikirku. Namun ada satu hal lagi yang mengganjal. Sebenarnya aku baru sadar kalau plat motornya berbeda dan aku mengabaikannya karena tidak sekali dua kali driver yang platnya berbeda dengan di aplikasi. Kuputuskan untuk bertanya saja ke driver, “mas kok platnya beda ya sama di aplikasi? ini ga salah kan?”. Driver menepis dengan menyebutkan nama dan tujuan saya dan keduanya benar. Aku hanya bisa mengiyakan walaupun masih sedikit panik kalau ternyata salah driver, dan benar saja aku mendapat notifikasi kalau driverku baru sampai lokasi pick up dan driver yang sedang mengantarku ini mendapat telepon dari customernya. Akhirnya kami benar-benar sadar dan yakin kalau kami berdua salah 🙂

Driver sedikit mengebut kembali ke tujuan awal (yang utungnya belum terlalu jauh walaupun harus memutar di trotoar, maaf ya pejalan kaki). Aku sedikit berlari ke arah driverku yang sesungguhnya dan kembali memulai perjalanan menuju venue dengan kondisi jalan Sudirman yang semakin macet. Aku masih tak habis pikir, bisa-bisanya aku salah naik (karena nama dan tujuan yang sama pula) dalam kondisi terburu-buru seperti ini.

Setelah menembus kemacetan di berbagai titik dan lampu merah, aku sampai di venue sekitar pukul 1 kurang (lewat 1 jam dari rencana awal /sigh/) dan masih harus menunggu kiriman hadiah dari temanku yang tidak bisa datang itu. Aku kembali menghadapi driver yang membuat bingung. Driver meminta bertemu di depan pintu gerbang, namun ketika aku menunggu di pintu gerbang driver tersebut malah menjawab “tanya gerbang aja dimana”. Padahal aku jelas berkata kalau sudah sampai gerbang. Setelah beberapa miskom selanjutnya, akhirnya kami berhasil bertemu.

Venue terlihat sudah agak sepi saat aku masuk. Aku langsung menelpon kedua temanku seara bergantian yang dua-duanya tidak mengangkat saat aku telepon namun malah menelpon balik ketika aku menelpon yang lain. Jadi semua telepon kami hanya menjadi missed calls karena bertabrakan. Akhirnya aku putuskan untuk menunggu telepon saja.

Di tengah telepon sambil berusaha mencari manusia-manusia ini, aku bertemu beberapa teman SMAku dan sedikit menyesal karena hanya bisa tegur sapa saja. Untunglah, tidak butuh waktu lama untuk menemukan mereka dan pas sekali karena temanku yang satunya sudah mau pulang.

Hari ini aku sadar bahwa tidak semua hal yang spontan berujung baik. Jika sudah mempunyai rencana yang jelas dan matang, akan lebih baik kalau dijalankan sesuai rencana saja oke? Lesson learned.