Posted in Gallery, Trip

[GALLERY] Semarang Trip!

In frame : Lawang Sewu – Kopeng Treetop – Simpang Lima – Goa Kerep Ambarawa

Photo collages of the Semarang trip!

First, Semarang! The iconic Lawang Sewu, Tugu Muda, and Simpang Lima

Have you ever been to Kopeng? It feels like Cikole in Lembang ^^

Don’t forget to put Ambarawa Railway Museum to your itinerary!

Strolling around Kota Lama Semarang and capture your best moment!

Some local foods you can try: Ikan Manyung in Semarang – Leker in Ambarawa – Cumi hitam in Pekalongan – Nasi Koyor in Semarang

You must try Soto Ayam Bangkong too in Semarang! and don’t forget to buy Bandeng Presto ^^

Posted in Random

#MATA: Terkadang, Mengikuti Rencana adalah yang Terbaik

Sebelum title ibukota Indonesia yang dimiliki Jakarta berpindahtangan, aku ingin mengumpulkan segala drama ibukota yang aku alami (dan akan, maybe haha) dengan tagar #Mata (Drama Ibukota–and later Drama Jakarta).

Formatnya akan seperti jurnal atau cerpen atau bagaimanapun nantinya, tergantung situasi yang terjadi saat itu lebih nyaman saya tulis seperti apa hehe.

Mari kita mulai dengan drama yang sangat fresh di memori.

Kamis, 31 Oktober 2019

Hari ini, aku punya janji untuk datang ke wisuda dua sahabatku sejak SMA. Mereka bilang kalau prosesi selesai sekitar pukul 12 siang (saat aku tanya sehari sebelum acara), namun ketika aku chat lagi (sekitar pukul 10 pagi, di hari-H) tiba-tiba temanku bilang untuk segera ke sana. “Cepetan ke sinii, udh mau kelar,” she said.

Awalnya aku membuat plan untuk naik bus trans ke Jakarta pada pukul 11 pagi yang membutuhkan waktu sekitar 40 menit untuk sampai ke Sudirman dan lanjut naik ojek online ke venue. Voila, aku akan sampai sebelum pukul 12 siang. Namun, karena chat tersebut, aku langsung putar haluan naik kereta yang ‘biasanya’ memakan waktu lebih sedikit.

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke stasiun sekitar pukul 11 kurang. Sesampainya di stasiun, aku mendapati fakta bahwa kereta ini sedang ngetem hingga pukul 11.22. Saat itu rasanya ingin keluar lagi dan pindah ke halte bus, tapi sudah kepalang tanggung. Setelah (sedikit) panik dan berharap kereta ini tidak mengalami delay nantinya, akhirnya aku stay di kereta.

Kereta berjalan lancar dan hanya stuck sebentar saat mau memasuki stasiun Manggarai. Setelah itu aku langsung pindah jalur menunggu kereta tujuan ke Sudirman. Temanku yang tidak bisa hadir ternyata terus menelponku (ingin menitip hadiah) namun aku tidak sadar karena handphoneku ada di dalam tas. Saat itu pula aku melihat ternyata sudah pukul 12 siang. Fortunately, aku tidak perlu lama menunggu kereta dan langsung melanjutkan perjalanan.

Tidak sampai 5 menit, kereta tiba di stasiun Sudirman. Aku bergegas menaiki escalator dan exit di jalan raya Sudirman. Aku berjalan sedikit ke dekat jembatan transjakarta untuk menunggu ojek online. Waktu menunjukkan pukul 12.20 ketika aku menghubungi temanku. Dia sudah keluar, katanya. Oke, aku akan sampai sekitar setengah satu, pikirku.

Namun ternyata, drama dimulai. Setelah menunggu hampir 10 menit, driver meminta aku untuk meng-cancel order. Aku dengan sedikit panik campur sebal, tidak mau dong kalau harus menunggu driver selanjutnya. Driver baru menjelaskan kalau banyak jalan yang ditutup sehingga dia tidak bisa menjemput. Dengan berat hati akhirnya aku cancel. Tidak lama, aku mendapat driver baru yang jaraknya cukup dekat.

Matahari Jakarta saat itu sedang terik dan mengakibatkan handphoneku overheat dan sedikit error. Saat sedang bergumul dengan handphone yang touch screennya mengalami problem, aku mendengar seorang driver meneriakkan namaku. Otomatis, aku langsung menghampiri dan mengkonfirmasi (dengan namaku) lalu menaiki motornya. Sepertiga jalan, aku kembali melihat handphoneku dan mendapati driverku belum sampai lokasi pick up. Ah, kayaknya masih error nih, pikirku. Namun ada satu hal lagi yang mengganjal. Sebenarnya aku baru sadar kalau plat motornya berbeda dan aku mengabaikannya karena tidak sekali dua kali driver yang platnya berbeda dengan di aplikasi. Kuputuskan untuk bertanya saja ke driver, “mas kok platnya beda ya sama di aplikasi? ini ga salah kan?”. Driver menepis dengan menyebutkan nama dan tujuan saya dan keduanya benar. Aku hanya bisa mengiyakan walaupun masih sedikit panik kalau ternyata salah driver, dan benar saja aku mendapat notifikasi kalau driverku baru sampai lokasi pick up dan driver yang sedang mengantarku ini mendapat telepon dari customernya. Akhirnya kami benar-benar sadar dan yakin kalau kami berdua salah 🙂

Driver sedikit mengebut kembali ke tujuan awal (yang utungnya belum terlalu jauh walaupun harus memutar di trotoar, maaf ya pejalan kaki). Aku sedikit berlari ke arah driverku yang sesungguhnya dan kembali memulai perjalanan menuju venue dengan kondisi jalan Sudirman yang semakin macet. Aku masih tak habis pikir, bisa-bisanya aku salah naik (karena nama dan tujuan yang sama pula) dalam kondisi terburu-buru seperti ini.

Setelah menembus kemacetan di berbagai titik dan lampu merah, aku sampai di venue sekitar pukul 1 kurang (lewat 1 jam dari rencana awal /sigh/) dan masih harus menunggu kiriman hadiah dari temanku yang tidak bisa datang itu. Aku kembali menghadapi driver yang membuat bingung. Driver meminta bertemu di depan pintu gerbang, namun ketika aku menunggu di pintu gerbang driver tersebut malah menjawab “tanya gerbang aja dimana”. Padahal aku jelas berkata kalau sudah sampai gerbang. Setelah beberapa miskom selanjutnya, akhirnya kami berhasil bertemu.

Venue terlihat sudah agak sepi saat aku masuk. Aku langsung menelpon kedua temanku seara bergantian yang dua-duanya tidak mengangkat saat aku telepon namun malah menelpon balik ketika aku menelpon yang lain. Jadi semua telepon kami hanya menjadi missed calls karena bertabrakan. Akhirnya aku putuskan untuk menunggu telepon saja.

Di tengah telepon sambil berusaha mencari manusia-manusia ini, aku bertemu beberapa teman SMAku dan sedikit menyesal karena hanya bisa tegur sapa saja. Untunglah, tidak butuh waktu lama untuk menemukan mereka dan pas sekali karena temanku yang satunya sudah mau pulang.

Hari ini aku sadar bahwa tidak semua hal yang spontan berujung baik. Jika sudah mempunyai rencana yang jelas dan matang, akan lebih baik kalau dijalankan sesuai rencana saja oke? Lesson learned.

Posted in Random

Sunday Well Spent ft. ICC 2019

Finally, I’m back! It’s been a while since I got stuck and wasn’t able to write anything. And here I am trying to write anything that pops in my head while listening to some upbeat songs.

A few days ago, I went to my first Comic Con in Indonesia. Indonesia Comic Con (ICC) 2019 was held from October 12 to 13. I went on Sunday (day two) because my friend’s graduation happened on the same day. Honestly, I didn’t plan to go to Comic Con, it was a spontaneous act, and it turns out to be the best festival that I ever went to.

After I went to my friend’s graduation–congratulated her, gave her present, and took photos together–which was held on the same venue (different hall), I and my other friends redeem the tickets and ready to have fun!!

I, literally, just went there and don’t know what to do. So I just ended up seeking freebies at first. I got coffee, ice cream, stickers, and lighters. Some booth giving it for free and some giving it through games. From Bumilangit booth for example, there was Sri Asih Punching Bag Challenge which gave free lighter for every challenger. If we got a score higher than the set target, we got the better prize such as a bag or t-shirt.

When I realize that there were Marvel’s booth and other booths which selling Marvel’s merchandises, I got excited. I looked for Iron Man’s merch but it got sold out so fast 😦 I don’t know there are so many Iron Man fans here. At least, I got a very cute glow-in-the-dark Groot’s tee so I feel satisfied.

While walking around the booths, there was a performance in Wonder Stage by DJ Orutaku. The DJ got everyone’s attention by playing some 90’s anime OST and remixing some of it with dangdut (Indonesian folk genre). It was so splendid and made me feeling nostalgic. Then, I got excited when I found a booth (sorry, I forget the name) which selling key chains, magnets, and earrings of Indonesian snacks, drinks, foods, and even some fast foods. It’s so cute and got me to spend my money to buy one. (Thank you, cute things indeed my weakness)

Another booth that wowed me was Eastwood Gun’s. They made DIY wood guns loaded by rubber bands. OMG, it was WOW! I can’t remember the guns’ type, so you can check it on their Instagram if you are interested. The creator said that their guns got sold out just in two hours after Comic Con’s opening. I wasn’t shocked because it was THAT awesome. You must try it for yourself!

I didn’t realize, I spend way too much time (than what I planned) there. It past 6 PM when we decided to go home because one of us still have an exam the next day. Before we went back, we walked around the official booths section (there was official booths and community booths) for one more time, because we spend more time in community booths (it’s cheaper! hehe). I went to Marvel’s booth once again and still couldn’t find my Iron Man 😦

Then I went to Line’s booth and saw their event. You got a random prize (by spinning the wheel) if you buy one official sticker. I tried it, hoping I got Brown cushion, but my not-so-good-luck gave me Brown hand fan. Actually, before we decided to go home, I saw my favorite comic artist staying in Bumilangit’s booth. I really want to take a picture together but got scared it bothers him (also, he was surrounded by the staff).

After some feeling of shyness and scared moment, I suddenly got my courageness after winning the hand fan. I went back to Bumilangit’s booth and luckily he wasn’t surrounded by the staff anymore. I went to him and asked him to take a picture together and he agreed. Wah, I feel so happy at that moment. I tried to talk to him but the nervousness win me and I was speechless–and the situation got awkward when my mouth just mumbling words I-don’t-even-remember-what. I thanked him and run to my friend. I can finally go home at peace now, I thought. My heart was still fluttering til exit door.

Remembering this, it just so funny I got so excited with someone I could meet anytime rather than the guest stars. I don’t even care when the guest stars appear on stage (I’m sorry). But, it was the best way to end Comic Con for me haha. I went to several similar events but I think Comic Con was my best experience. I never-ever went to an event that made me forget about the time.

Thank you for my friend who just graduated, you are the reason I could go to Comic Con, and also for my two other friends who accompanied me. It was a wonderful weekend!

Posted in Beauties

Cushion For Indonesian Skin!

Setelah sekian lama maju mundur beli cushion ini atau ngga, akhirnya ku putuskan untuk beli (kebetulan sedang promo juga hehe)

Aku beli Purbasari Pore Perfecting BB Cushion shade nomor 3, Caramel. Sejujurnya galau mau beli shade nomor 2 atau 3, tapi akhirnya beli yang tergelap karna takut keterangan. Turns out, shade 3 was too dark for me 😢

Aku mau sedikit review tentang cushion ini~

First, walau warnanya terlalu gelap di kulit aku, tapi undertonenya masih cocok jadi bisa diakalin pakai concealer yang lebih terang. Menurut aku, coverage cushion ini medium dan bisa dibuild up. Teksturnya cukup cair jadi ngga cepet ngeset saat diapply dan mudah dibaur ke wajah. Hasil akhirnya matte tapi ada sedikit glow, kalau tipe kulit kalian ga berminyak, ga diset pakai bedak juga udah cakep!

Second, aku suka packagingnya. Simple, yet elegant. Puffnya juga lumayan empuk dan ngga menyerap banyak produk. Aku cuma butuh dua kali tap buat cover muka aku.

Next, mari bahas claimnya! Cushion ini mengklaim bahwa ini dapat mengurangi sebum, menyamarkan pori-pori, dan melindungi kulit dari efek buruk sinar matahari, Kulit tampak lebih elastis, halus, lembab, dan bercahaya.

Mengurangi sebum? Cushion ini cukup menahan minyak di oily skin aku. Aku pakai sekitar 7 jam, dan baru mulai oily di bagian T-Zone sekitar jam ke-6. Di jam ke-7, daerah pipi dekat hidung dan dagu mulai oily juga.

Menyamarkan pori-pori? Saat selesai make up, aku bener-bener merasa flawless, selama ga diliat secara zoom haha. Cushion ini cukup menyamarkan pori-pori kok, tapi ngga yang sampai jadi manusia tanpa pori-pori (mungkin bisa kalau kamu pakai berlayer-layer). Pori-pori aku mulai visible sekitar jam ke-6.

Melindungi kulit dari efek buruk sinar matahari? Aku ngga bisa confirm claim ini sih, karna aku pasti pakai sunscreen sebelum make up (kalau pagi-siang). Cushion ini sudah include sunscreen SPF 18 PA+++ untuk kamu yang ngga mau pakai sunscreen. But guys, sunscreen is a must for your skin! Don’t skip it!

Kelebihan cushion ini (di luar klaimnya) yang aku rasakan adalah entah kenapa at the end of the day, warnanya makin menyatu sama kulit aku (at least sama kayak warna leher–aku cuma apply di wajah). Banyak yang bilang ini oksidasi jadi makin gelap, tapi di aku oksidasinya jadi warna kulit. Lalu, yang paling aku suka adalah make up di daerah hidung ngga cepet luntur dan gumpal! Aku selalu pakai kacamata, dan problem utama setiap manusia berkacamata adalah make up yang luntur karna gesekan kacamata but yang ini ngga! Make upnya emang sedikit luntur sih, tapi ngga yang sampai menggumpal. I love it!

Lalu, kekurangannya adalah make up ini kurang cocok dipakai untuk acara seharian, terlebih kalau kalian tipe yang malas touch up. Make up aku terlihat masih bagus sampai sekitar jam ke-5, mulai jam ke-6 make up sudah mulai luntur dan oily. Seperti yang aku tulis sebelumnya, di jam ke-6 pore mulai visible, kemerahan di wajah aku juga mulai terlihat. Belakangan ini kulit aku mulai berubah ke arah kombinasi, jadi aku selama pakai cushion ini cuma set bedak di daerah bawah mata dan hidung. Next time aku akan coba set satu muka dan lihat apakah bisa memperpanjang ketahanannya.

Jam ke-5 (kiri tanpa flash, kanan dengan flash)

Last, aku suka banget cushion ini! (despite the wrong shade) Plus, harganya affordable dan undertonenya cocok banget sama kulit masyarakat Indonesia. So proud, akhirnya produk lokal mau release warna dengan undertone warm!

Kalau kalian mau beli, produk ini sudah tersedia di Watson atau kalian bisa beli di Official Online Store Purbasari~

Posted in Random

My very first me-time~

For the first time in my 22 years’ life, I went to a Mall ALONE. Maybe it is not a big deal for most people, but it is for me.

I don’t know why, I can do it when I am in Bandung but when I am in Bekasi it just feels weird to going out alone. My mom would react “why did you go out alone?” too. In that moment I really feel like I have no friends😢

I just wanna have a me time, really. And I want to spend my discount vouchers which expired that day.

When I arrived, I went to the book store. There are novels which I stupidly bought the first and third books. I want to buy the second book but wasn’t able to find it there. I decided to move to another mall across this mall. Unfortunately, I couldn’t find it here too.

But I found something more interesting. it was GUNDALA comic book : movie edition! Oh my gosh, it was so good! I shivered while reading that comic book. AND it answered every questions that I have when I watched the movie. YOU MUST READ THE COMIC IF YOU LOVE GUNDALA!

After spending so much time in the book store, I went to buy a drink. I tried Gulu-Gulu after craving it for some time. I’m not a big fan of sweets, but once in a while I crave it haha. I tried the Cheese Red Velvet for free~ (big thanks to Dana’s 100% cashback) and it was good! The red velvet wasn’t too sweet, plus the cheese was salty which made the drink less sweet. Surprisingly, it was a nice combi. When you drink it together, they’re complement each other! Now, I crave this drink again😂

Then, I wandered and decided to do window shopping. I went to a drugstore and found out that a brand did a free skin check. I want to try but it was so crowded. When I walked to make up section, I found a bb cushion that I really want to buy was getting discount (almost 50%). Excited, I called the BA and asked for it but she said that I should go straight to the cashier to buy it. There was a pretty long line in the cashier. I wait patiently in the line for 15 minutes(ish). You know what, when I said what I want to buy, the cashier, straightforwardly said, “It’s out of stock, miss.”

Oh. My. God. I’m. Speechless. HOW COULD THE BA NOT TELLING ME THAT IT WAS OUT OF STOCK ?! I waste my time lining in the cashier for nothing.. I would just line in the free skin check if I know.. Thanks to Gulu-Gulu, I can suppressed my annoyance.

After wandered in the mall for I-don’t-know-how-long, I chose to going back. The sun had already set and I didn’t want to stuck in traffics. I ordered an online transportation and wait for awhile. In a traffic, the driver suddenly asked me “You go to the mall alone, miss?”. Is he a shaman?, I thought. That was so random but straight to the point. It just, I feel sad when he asked me like that. It was Sunday night and I went alone to a mall where you can easily found couples.

Actually, my very first reason for going out alone is to go to the cinema. But, suddenly I lost interest. The movie(s) which I want to watch was either too lovey-dovey or too jump-scaring to watch alone. (I hate jump scare 😔)

So, that’s it! It was my first experience of going to mall alone in Bekasi~ Will I go to mall alone again? I don’t know. It was so good that I was able to have a me-time, but honestly, I need someone to talk to (especially when I excited) haha.

Posted in Gallery, Trip

[TRIP] Where to Go? #Malaysia Edition

View from Apartment

I’ve been organizing my files when I found this old album when I went to Malaysia with my fam. Foto-foto yang aku temukan ga terlalu banyak but it’s enough to bring back memories. Mumpung sedang nostalgia, sekalian aja aku share pengalaman aku trip ke Malaysia two years ago, okay?

Malaysia bukan luar negeri pertama yang aku kunjungi, yang pertama adalah Singapura. Memang ya, ketika kita berkunjung ke luar kota atau luar negeri, hal pertama yang kita lakukan adalah comparing them with another places (usually tempat tinggal kita). Saat pertama mendarat di Kuala Lumpur, aku otomatis membandingkan suasanya Kuala Lumpur dengan Singapura. Perbedaan yang paling mencolok adalah transportasi umumnya. This country really really similar with Indonesia! Coba tebak transportasi umum apa yang paling banyak digunakan turis (saat itu)? If your answer is online transportation, yeah you guess it right. Sebenarnya ada kereta dan bis, namun sayangnya, jangkauannya ga sampai ke tempat-tempat wisata seperti di Singapura. Okay, let’s stop comparing Malaysia and Singapore.

Seingatku, aku di Malaysia sekitar satu minggu. Selama seminggu itu, kami menginap di suatu apartemen di daerah Alor dengan harga yang cukup affordable. Apartemennya berisi dua kamar tidur (one queen bed and one jack bed), dua kamar mandi shower (plus hairdryer), ruang makan, ruang tamu, dan dapur full furnish (kompor listrik, cutlery, knives, coffee, tea, snacks, everything!). Oh, the scenery from this apartment was so beautiful. This apartment is still the best apartment for me until now!

Kalau kamu berencana berkunjung ke Malaysia, kamu wajib ke jalan Alor buat coba street food! Walaupun saat itu sedang bulan puasa, para pedagang tetap berjualan seperti biasanya. Dari pukul tiga sore, jalan Alor akan berubah menjadi surga pecinta kuliner. Oh ya, ga cuma street food aja kok yang di jual, kalau kamu ke jalan utamanya, kamu akan lihat di sebelah kiri ada deretan restoran dan di sebelah kanan deretan street food. Semakin malam, tempat ini akan semakin ramai dengan pengunjung, tapi ga perlu khawatir karena selama di sana aku ga pernah sampai waiting list (hehe).

Let’s talk about beberapa tempat wisata di Malaysia, khususnya Kuala Lumpur. Another must visit places are Kuala Lumpur Tower and Petronas Twin Towers! Siapa sih yang ga penasaran sama landmarknya negara ini? Sayang, aku cuma berkesempatan untuk masuk ke Kuala Lumpur Tower. Kuala Lumpur Tower ini sebenarnya mirip sama Monas, kita bisa naik dan berfoto di atas jika membeli tiket. Setelah naik ke atas dengan lift, kita bisa melihat pemandangan kota dengan mata telanjang atau pun dengan teropong yang disediakan. Bedanya, di ruangan tersebut ada beberapa pedagang yang berjualan souvenir dan di dinding ruangan tersebut terdapat wallpaper dengan gambar-gambar menarik yang biasa digunakan turis untuk berfoto juga. Kalau mau datang dan berfoto di sini, datangnya waktu malam ya, pemandangannya lebih cakep!

Kamu pecinta bangunan-bangunan megah atau bersejarah? Coba datang ke Istana Negara atau Thean Hou Temple. Kamu ga akan bisa masuk ke dalam istana negara sih, tapi kalau mau foto-foto di depannya bisa kok! Tenang, kalau Thean Hou Temple bisa kamu datangi dan masuk tanpa dipungut biaya. Pertama menginjak kaki ke klenteng ini, aku benar-benar kagum dengan arsitekturnya. Cantik banget! Klenteng ini didominasi warna merah seperti klenteng pada umumnya, tapi rasanya klenteng ini punya aura yang berbeda dan bikin nyaman stay lama di situ. Klenteng ini cukup besar, terdiri dari tiga lantai, dan semua tempatnya sangat instagramable. Tapi hati-hati ya, di lantai atas ada ruang untuk berdoa, lebih baik menunggu saat tidak ada orang yang berdoa jika ingin foto-foto di ruang itu (hehe).

Sebenarnya, ada satu tempat megah lagi yang wajib kamu kunjungi yaitu Batu Caves, namun letaknya ada di Selangor (kamu bisa naik kereta kalau ke sini). Siap-siap olahraga kalau datang ke sini, tangganya banyak! Saat aku berkunjung, Gua ini masih dalam masa pembangunan jadi tidak secantik saat ini (tangganya belum warna-warni).

Makanan, sudah. Bangunan megah juga sudah. Berarti tinggal tempat shopping! Tempat shopping utama di Kuala Lumpur ada di daerah Bukit Bintang. Ada kejadian lucu ketika kakak aku bertanya pada owner tentang tempat wisata di Kuala Lumpur. Owner merekomendasikan tempai bernama Sungai Weng. Tanpa search google, kami langsung naik kereta menuju tempat tersebut, berekspektasi kalau tempat ini mungkin seperti Sungai Han di Korea yang asik untuk strolling sore. Anehnya, kereta semakin menuju ke kota dan kami berakhir di daerah Bukit Bintang yang berisi mall, dengan salah satu mall bernama ‘Sungai Weng’. Akhirnya niat kami untuk strolling berakhir dengan shopping. Lesson learned, better search it first next time.

Selain daerah Bukit Bintang, kamu juga bisa coba ke Petaling Street, Chinatownnya Kuala Lumpur. Cari makanan non-halal? Di sini tempatnya. Last, di bagian utara Kuala Lumpur, ada daerah bernama Genting Highlands. Untuk sampai di sini, aku pesan transportasi online, lalu lanjut naik kereta gantung. Pemandangan saat di kereta gantung bagus banget deh! Sebenarnya, Genting terkenal akan kasinonya, tapi kamu bisa keliling di mall aja kok, ga perlu masuk kasino kalau ga mau. (hehe)

Sedikit banyak, itu tempat-tempat yang aku kunjungi selama di Malaysia. Sayang, aku ga bisa kasih lihat semua tempat karena foto yang aku temukan di album ini sedikit. Kalau ada kesempatan, silakan datang sendiri dan nikmati suasana tempat-tempat tersebut ya!

Posted in Entertainment

This is not a Superhero Movie – #Gundala

source : imdb

This is not a superhero movie, this is a movie about superhero.

– someone on twitter, 2019

I found someone tweet that and can’t help to agree. But for me, Gundala (2019) is a pre-Gundala movie. Ini adalah episode 0 atau kalau di komik/novel biasa disebut prolog.

Seperti biasa, review film ini hanya based on pengalaman dan perasaan selama aku tonton. Aku pun bukan pembaca komik Gundala orisinil karya Hasmi, namun sebelum akhirnya memutuskan menonton film ini, aku menyempatkan diri menonton Gundala Putera Petir (1981). Hanya untuk mengetahui cerita orisinilnya actually, but turns out it was interesting.

Plot wise, the 1981’s is more relatable and logical than the 2019’s. I like the idea about spreading a threat serum, but why you chose “Amoral Serum” from all kind of possible names you can choose. Moral bukan sesuatu yang bisa diukur dan bahkan tanpa disuntik serum itu pun, sebagian manusia memilih untuk amoral bukan? (haha). Agak menyayangkan kenapa ga memakai serum or drug pembangkit amarah seperti yang ada di webtoon? It is far more logical and developable. (For anyone who curious about the 1981’s plot, it is about an anti-morphine serum.)

Lalu, pace film ini lambat sekali. Joko Anwar keliatannya sangat fokus menceritakan tragedi kehidupan Sancaka, sampai aku kira ada perubahan dari cerita orisinil dan Sancaka sudah memiliki kekuatan Gundala sedari kecil. Ternyata salah. Pada akhirnya background story Sancaka yang sangat panjang tersebut tidak menghasilkan apa pun kecuali adegan pertemuan dengan Awang yang mengajarinya bela diri. Sisanya hanya membuat saya bertanya-tanya dan ber-“hah?”-ria. Banyak adegan yang sebenarnya tidak perlu dimasukkan tapi entah mengapa dimasukkan padahal tidak berpengaruh terhadap plot kedepannya.

Tapi semua itu termaafkan karena kegemasan Sancaka kecil dan ketampanan Sancaka besar (haha bercanda). Aku suka banget sama karakter Pengkor. Background storynya bahkan diceritakan dengan jauh lebih baik dibanding milik tokoh utama. Sayang, anak-anak bapak kurang diceritakan, dan pertarungan mereka dengan Sancaka pun sangat sangat seadanya. Setidaknya aku butuh proper introduction for the upcoming villains (or could be allies), bukan hanya individual shoot about their job/speciality. And, I wish Pengkor have a grand finale, ga cuma mati ketembak gitu aja😔

Pada akhirnya Gundala (2019) rasanya lebih tepat kalau diberi judul Sancaka. The plot was really just focusing about Sancaka’s journey becoming hero (from what Ghazul said, he wasn’t even aware that he is Gundala). Sancaka hanya tau kalau petir bisa membuatnya kuat, belum bisa mengendalikan petir, dan masih bertumpu pada kemampuan bela dirinya. A typical human who acts as local hero, right? Not a superhero yet.

Berbicara soal Ghazul, dia benar-benar menaikkan mood saat menonton karena membuat kita berekspektasi tinggi (lagi) akan film selanjutnya (of course Sri Asih too!). Tapi yang sedikit miss adalah Ghazul yang dari awal bersama Pengkor, di tengah cerita bergerak sendiri dengan memanfaatkan Ganda untuk kepentingannya. Jadi Ghazul ini anak durhaka yang ga mau bantu bapaknya begitu?

Oh, yang membuat aku bingung (banget) adalah there is no secret in this universe? Bagaimana bisa Ridwan mendapat nomor Sancaka (yang pertama kali ia temui dalam wujud Gundala), begitu pula dengan Pengkor yang datang ke tempat kerjanya, dan Ghazul yang mengambil darahnya di tengah perkelahian? Like, how could they possibly now that Sancaka is the hero?

Lalu kostum Gundala tuh fungsinya cuma sebagai penangkal/penyerap petir ya bukan untuk menyembunyikan identitas? He didn’t fucking care if people know his identity. Atau karena dia belum menjadi Gundala jadi dia cuek? About costum, I’ve read that Joko Anwar bilang dia mau membuat Gundala yang make sense sih (kostumnya ga turun dari langit atas pemberian Raja Petir seperti di 1981). But that means, Sancaka lebih seperti Spiderman ya bukan Thor.

Overall, film ini aku kasih nilai 7/10. It is a nice start for opening Jagat Sinema Bumilangit, and for that I give 0.5 points more. Why? Karena menurut aku fokus pembuat film ini sudah jauh ke depan (yang sayangnya jika dinilai dalam satu film akan kurang memuaskan), film ini benar-benar berfungsi sebagai pembuka jalan untuk film-film selanjutnya (hampir setengah key characters Jagat Sinema Bumilangit diperkenalkan di sini). So, it is 7.5/10.

Semoga film selanjutnya bisa mengangkat plot yang lebih matang dan menarik, ga cuma mengandalkan nama besar jajaran pemain aja ya!😉

Posted in Gallery, Trip

[GALLERY] Bali’s Getaway♥

every scenery was so mesmerizing

Some foods you must try besides the traditional foods such as nasi campur and ayam betutu

70º Fahrenheit Koffie – Mie Kober

all photos shoot by smartphone

Posted in Entertainment

Chain of Trust Based on Lies – #Parasite

source on poster

*soft spoiler alert*

Belom basi kan ya kalau aku mau sedikit review film ini? hehe. Aku bukan expert, jadi review ini murni dari pengalaman selama menikmati film Parasite 😉

Sejujurnya film ini ga aku tonton di bioskop karena kelewat timing (sidang things really wear me out to even going to cinema). Karena itu juga, banyak review yang aku denger tentang film ini dan sebagian besar orang bilang bahwa film ini “mindblowing” and “unpredictable“. I really loves that kind of movie so it put my hope’s high.

Memang ya dalam setiap hal itu lebih baik kalau tidak berekspektasi apapun daripada berujung ke kekecewaan. I really really waiting for the mindblowing part, and it doesn’t come (for me, at least). Scene yang unpredictable emang ada. Tapi kalau benar-benar menyimak filmnya, the writer put some easter eggs which will explaining those scenes, later ofc. Jadi ya, tidak seunpredictable itu kalau kamu sangat fokus nontonnya.

Beside the mindblowing and unpredictable things, aku suka sama plot dan pembawaan alurnya. Plot tentang kesenjangan hidup dan con artist cukup umum di perfilman Korea but this film was freshly developed. Sejauh ini aku belum menemukan film yang mirip ataupun yang bergenre tragicomedy (please tell me if you know!).

Untuk kemampuan akting para aktor ga perlu ditanya deh, sebagian besar merupakan aktor yang bisa dibilang cukup veteran (dengan sederet list drama, film, serta award).

I enjoyed watching this, love it actually. Penulis ga menyisakan plot hole yang kentara buat aku kritik. Semua pertanyaan yang muncul, terjawab di akhir film, kecuali satu hal yang aku benar-benar ingin tau. “Bagaimana cara Jessica mengajar Dasong jadi penurut?” Sayang aja ga ditampilin sekali pun.

Lalu, yang membuat sulit dari film seperti ini adalah kita menjadi simpati terhadap Kiwoo dan keluarganya (yang jelas-jelas bersalah), but that’s a movie for you. Kalau benar terjadi di dunia nyata, belum tentu kita akan bersimpati juga haha.

Last, for me it is 9 per 10 point! Love it!