Posted in Random

Persimpangan Hidup: Masa Depan atau Masa Muda? (part 1)

Halo! Barusan dapet notifikasi kalau hari ini 1st Anniversary of The Unknown Journal 🥳🎉

Jujur, bangga banget sama diri sendiri karena ga pindah-pindah platform lagi dan bisa lumayan aktif nulis setahun ini. Hari ini, aku mau berbagi sebuah pengalaman yang ga pernah disangka sebelumnya, sekaligus mempertanyakan tujuan hidup aku kedepannya.

Dari kecil, orang tuaku selalu memberi hak untuk aku membuat keputusan sendiri dalam hidup, seperti mau masuk jurusan IPA/IPS, mau kuliah di jurusan apa, setelah kuliah mau ngapain, sampai mau kerja di perusahaan apa. Tapi, tentu aja ga lepas dari segala nasihat/ceramah mereka yang cukup sukses memberikan influence.

Satu contoh yang sukses adalah saat aku harus pilih jurusan di SMA: aku ingin banget masuk IPS, cuma karena ga mau ketemu fisika sih hehe, tapi jangka panjangnya pun aku emang ingin kuliah di bidang sosial bukan eksakta. Saat itu sampai agak debat karena aku ga berhasil luluh sama influence mereka.

Hari penerimaan rapot, sekaligus penentuan jurusan, pun tiba. Aku kira mereka udah nyerah bujuk aku masuk IPA (kita ga pernah ngomongin topik ini lagi), sampai ketiku guruku bilang “Indah nilainya bagus nih, masuk IPA kan?”, sebuah pertanyaan yang lebih terdengar sebagai statement buatku (sekarang kalian boleh banget bayangin wajah dua ibu-ibu yang sumringah sambil bahas seluruh benefit jurusan IPA🙂). Cukup lama obrolan itu berlangsung sampai akhirnya aku menerima jadi murid IPA.

[Sedikit disclaimer: aku suka minta/denger opini orang lain, sampai dikira aku tipe yang mudah di-influence, tapi semua keputusan yang aku ambil berasal dari pilihan sendiri setelah banyak pertimbangan dan perbandingan.]

Aku selalu mengira aku ini tipe yang spontan tapi setelah dipikir-pikir, aku tipe yang cukup well-planned. Memang aku nerima jadi murid IPA karena influence para orang tua tapi sesaat sebelum aku mengiyakan, banyak kemungkinan-kemungkinan yang sudah aku bayangkan dan persiapkan. Aku mulai mengubah rencana untuk mencoba masuk teknik lingkungan, kesehatan masyarakat, atau ilmu gizi. Walau pada akhirnya saat lulus SMA, aku balik lagi ke mimpi awal untuk kuliah di jurusan yang ga berhubungan sama IPA haha.

Selama memilih untuk kuliah di bidang Sastra hingga lulus, aku dapet dukungan penuh dari mereka. Ga pernah sekali pun aku denger mereka mempertanyakan “Kuliah jurusan Sastra mau jadi apa?” dalam nada yang merendahkan. Setelah lulus, aku yang memilih untuk liburan sampai wisuda pun dibiarkan (sesekali dikasih “insight” tentang kerjaan sih tetep). Puas meliburkan diri, akhirnya aku mulai mencari pekerjaan, dan dimulailah segala dorongan untuk aku memilih “pekerjaan yang stabil” aka bekerja di kantor mama bekerja hingga pensiun, yang hanya aku anggap angin lalu.

Dari semua jenis pekerjaan yang pernah aku apply, cuma satu yang agak ditentang oleh mama yaitu reporter. Saat dia tau aku dapet panggilan interview dari CNN, yang dia omongin cuma segala resiko buruknya. Sampai saat aku menginjakkan kaki di gedung Transmedia dan bahkan saat interview, aku benar-benar menghiraukan omongan mama. Tiba-tiba, kepala editor yang meng-interview bertanya, “Orang tua ngizinin kamu jadi reporter?” saat itu aku diem agak lama dan cuma bisa jawab iya dengan sedikit keraguan, dan ya sesuai dugaan: ditolak.

Sejak saat itu, aku yang selalu ingin jadi reporter mulai terjebak dengan pertanyaan “Sebenernya aku mau kerja apa?”. Aku jadi sering mempertanyakan keinginan dan kemampuan menulisku karena ga ada panggilan interview lagi di bidang itu. Dari yang awalnya fokus apply di bidang creative dan media, aku mulai sedikit menghindari bidang tersebut beberapa saat.

Akhirnya aku banting setir–apply internship di berbagai bidang, hingga pada Desember diterima sebagai seorang Copywriter. Anehnya, internship ini malah membuka minatku pada bidang Marketing, juga membuat aku semakin memikirkan masa depan. Banyak hal yang aku pelajari dan ingin aku pelajari ke depannya. Aku mulai ikutan online class, webinar, dan nonton live Ig/Youtube terkait minat.

Sebelum kontrak habis, aku udah berencana untuk mulai apply full-time job lagi. Di awal Maret, sebuah perusahaan farmasi ternama menerima lamaranku dan memanggil untuk interview. Esoknya, tiba-tiba ada telepon tawaran kerja dari sebuah start-up marketplace oranye kecintaan para pemburu diskon dan gratis ongkir. Seneng banget karena itu pertama kalinya aku dipanggil bukan apply! Merasa bangga juga karena dalam satu minggu aku ada dua jadwal interview untuk posisi yang sama dengan internship-ku.

Namun ternyata pandemi menyerang. Di start-up marketplace aku sedang menunggu interview user, sementara di perusahaan farmasi aku tidak bisa hadir interview karena pandemi yang semakin memburuk. Semua panggilan kerja tersebut menghilang tanpa kabar, ditambah kontrak yang juga ga bisa diperpanjang. Di awal Juni, aku resmi menjadi full-time chef di rumah😅.

.

Wah baru setengah jalan tapi cukup panjang. Kisah pencarian kerja selama pandemi yang berakhir penuh kejutan (lagi) akan aku tulis di part 2 yaa!

Posted in Random

Boosting Confidence through Internship?

Setelah 6 bulan lebih sedikit, akhirnya buku perjalananku di PT Cerita Bahagia aka Bridestory ditutup.

Aku termasuk orang yang beruntung karena bisa merasakan kerja di dua gedung kantor (sebelum pindah ke Tokopedia Tower, kantor Bridestory ada di dalam mall Belleza Shopping Arcade). Dari yang awalnya masuk kantor rasanya penuh banget sama orang, sampai masuk kantor kok orangnya jadi dikit, perbandingannya sekitar 1 ruangan vs 1 lantai, sih!

Seperti masalah anak muda baru lulus pada umumnya yang merasa galau mau kerja linear pendidikan atau terjun ke hal yang benar-benar baru, bahkan terkadang sangat clueless “setelah lulus gini gue kerja apa ya?”. Email notifikasi kalau aku diterima di Bridestory saja rasanya nano-nano. Yakin mau kerja di sini? Apa akan betah? Cuma internship emang bakal dapet apa sih? dan beragam pikiran semacam.

Berbekal memantapkan diri dan hati untuk terjun ke dunia yang sebenarnya, aku pun memulai lembaran buku perjalanan pekerjaan ini sebagai seorang Product Copywriter Intern. Seluruh bayangan akan dunia pekerjaan yang berat rasanya hilang begitu saja.

Bekerja pasti lelah dan ada momen stress ketika stuck, tapi banyak hal yang bisa dilakukan buat naikin mood lagi kok! Dari hal kecil seperti jalan-jalan sore beli jajanan, dapet makanan/minuman gratis, sesi curhat di pantry, admiring artis yang datang ke kantor, sampai dapat apresiasi/good feedback dari atasan. Kamu mau fokus di bagian stress kerja atau appreciate hal-hal kecil di sekitar? Pada akhirnya dirimu sendiri lah yang menentukan kebahagiaanmu.

Impact besar yang aku dapat dari internship ini adalah aku jadi percaya diri dalam bekerja. Seperti yang aku tulis sebelumnya tentang kegalauan bekerja, itu hal wajar dan pasti sebagian besar lulusan baru rasakan. Tidak apa merasa begitu, jangan merasa down dan jadi menutup kesempatan yang datang. Mulai saja dari internship, minimal kamu bisa merasakan rasanya bekerja. Setelah itu, kamu bisa mulai explore skill dan interest kamu. Selama bekerja sebagai copywriter, selain belajar menulis dan berpikir kreatif, aku juga belajar banyak tentang CRM, Marketing, Business, Product, dan bahkan jadi tertarik belajar coding! Tentu aku belajar semua itu ngga sendirian, tapi aku dapat banyak insight dari orang-orang di masing-masing departemen tersebut. Tambah skill, tambah relasi, asik kan? 🙂

Lalu, kenapa internship bisa membuat aku percaya diri? Tentu karena pengalaman yang aku dapat. Pernah merasa ngawang ketika menjawab interview? atau cuma bisa menjawab hal-hal general saja? Terkadang itu terjadi bukan karena kamu kurang pengalaman tapi antara pengalaman organisasi/panitia dan pengalaman bekerja memang berbeda. Buat aku, pengalaman organisasi/panitia sangat ngebantu develop interpersonal skill sedangkan pengalaman kerja lebih condong ke hard skill–kamu belajar menggunakan tools, mengubah data jadi hasil, mengembangkan/menjual produk, dan lainnya sesuai departemenmu. Singkatnya, aku jadi tau apa yang aku (akan) kerjakan jika aku melamar di bagian A/B/C, sehingga aku bisa menjelaskan berbekal pengalaman yang aku punya (walau hanya sebagai intern).

Teruntuk kalian yang merasa “takut akan dunia kerja”, ayo bangun & mulai cari internship! Siapa tau, setelah itu kalian juga akan terbuka pikiran dan matanya seperti aku!

P.S: Sejujurnya nulis ini rasanya berat. Aku harus last day di masa working from home. Aku ngga bisa ngucapin terima kasih dan semangat secara langsung ke orang-orang yang udah bantu isi buku perjalananku ini jadi menyenangkan. Mungkin aku akan nulis pengalaman detailnya setelah mulai working from office lagi supaya aku bisa masukin foto bareng mereka 🙂

Posted in Random

An Ill-Fated Relationship?

Do you know, I have a mysterious and ill-fated relationships with…

courtesy: shop(.)spreadshirt(.)com

Yes, pineapple! A tropical fruits which are rich in vitamins, enzymes, antioxidants with many health benefits. But for me, the allergic reaction (or side effect, idk?) dominates the whole benefits.

It started when I’m in elementary, I guess. I went to have dinner in PH with my family and then, someone ordered a pizza with pineapple on it. I tried it, unknowingly ate a pineapple on pizza (to be honest I really can’t understand people who eat an unprocessed fruit with carbo??). After awhile, I finally recognize the strange thing on my plate and disposed the pineapple away. I’m still okay until 15-20 minute-ish later, my throat felt so dry and my lips were hot and a bit itchy (but still bearable).

Hence, I started to hate pineapple and considered it as my food allergy to avoid it as much as possible. Many people wonder how can I allergic to pineapple, especially when there are jars of Nastar in my house and yet I never tried it (until now😢). I know IT IS SO GOOD. I can imagine it, and recently I tried eating pineapple jam. Oh, of course unknowingly 🙂

It happened during my third year in college. My friend offered me to sample her home-made pie. It’s Christmas soon, I really want to have a pie instead. She explained all of the variants and I said yes when she said she has meat variants too, not just fruits. Thanks to my carelessness, I got the fruit pie as a sample. How stupid I am to think that she will give me the meat one just because I said okay when she explained the meat variant haha. When I opened it, I saw a dark yellowish color. I was afraid, but I tried to think positively that was not a pineapple pie (another stupid assumption I know, which fruit jam has dark yellowish color beside pineapple omg). I ate it and IT WAS SO GOOD I wanna cry. I can say that it was the first, the last, yet the best pineapple pie I had. I’d eaten half of the pie when I’m finally sure it was pineapple. But yeah, I kept eating it anyway haha. At first, I think it will be okay to eat the processed one aka a jam. Then 30 minute-ish later. my throat was soo dry and I started to feel feverish.

So, the jam version is a no no too I guess. To be honest it shaken me a lot after I know the pineapple jam is good. On several occasions, I really have the urge to try eating it again 😦

After suppressed it a lot, I give another chance to pineapple. I got a home-made fruit salad from my sister-in-law. And you know what, I almost–unknowingly–eat the pineapple, again. I’ve already put it on my plate so I must eat it (especially in this kind of situation, I don’t wanna risk anyone by sharing food). I disposed the pineapples and ate the rest. I could taste the pineapple tho. An okay time last until I went to bed room, watched a movie, and passed out. I’m not the type who can sleep easily and that time I couldn’t make myself awake. I woke up at 10 or 11 pm with a super dry throat (I drank 3 bottles of water, it’s not helping). I decided to ignore it (actually, I’m afraid it was corona instead of allergic reaction haha) and then washed my face, brushed my teeth, re-watched the movie, and slept again at 12-ish. Wow, I slept a lot that day👏

The next day, I woke up feeling sluggish with puffy eyes for a whole day 🙂 Thank God it’s weekend.

I really don’t know what’s wrong with me and pineapple. People won’t believed when I said I allergic to it, and neither do I. I did a lil’ research: pineapple is not in the list of food allergen, but the symptoms I had is the same with the side effects of having too much pineapple. The question is, I never have more than a bite of pineapple (fruit), but yeah for the jam is a whole pie actually haha is it a lot?

Just now, I ate the fruit salad again (after my mom disposed all the pineapples) and I’m still okay while I’m writing this blog. I got a dry throat as usual but not as long as before. I couldn’t taste any pineapple so I think I’m gonna be okay? Let’s see what will happen tomorrow! If I’m okay, must I give a chance to this relationship again? I still wanna try Nastar tho.

♥ 4.29.20.IT ♥

Posted in Random, Trip

SS8 Jakarta [2/2]: Meet My Long-Lost Idol Again

Ga sekali dua kali gue ditanya, “Ndah, penyanyi yang lo suka siapa sih?” mungkin karena playlist lagu gue super random? Nah, sesuai mood sih lebih tepatnya. Kalau di Spotify, di bagian Liked Songs gue barulah sangat-sangat random. Lagu Indo, Barat, Korea, Jepang, China, Thailand, Latin, semua ada!

Ada beberapa konser yang gue datengin karena suka penyanyinya but mostly bukan konser tunggal penyanyi itu. Hm, I think hampir semua konser mix penyanyi minus ketika gue nonton Kunto Aji deh hehe sisanya band kampus soalnya. Satu-satunya penyanyi yang gue willingly spend money to buy their albums and go to their concert ya cuma Super Junior. Rasanya jauh lebih worth it aja nonton konser mereka. Maybe because they are boyband and have many members. But sekarang I’m not into albums anymore, thanks to digital era.

Terakhir gue nonton konser Super Junior itu saat SS4 tahun 2012. That’s also my first concert so it feels so special for me! Setelah itu satu per satu member menghilang. Either wamil or just disappear because one and other things. Member hilang, keinginan gue untuk nonton konser mereka juga hilang. Sampai akhirnya mereka bener-bener comeback di tahun ini (minus Heechul sayangnya😞).

Sejak SS7S sebenernya udah ingin beli tiket namun sayang miss di tanggal dan baru kesampaian di SS8 ini setelah kebimbangan tiada akhir dan hampir miss tanggal lagi (gue kira tanggal 11 Jan ada acara, taunya di bulan Feb haha bodoh). Akhirnya bisa mengobati kerinduanku melihat mereka di panggung secara langsung lagi!

Sampai di venue sekitar setengah 9 pagi dan buru-buru ke ticket booth di Hall 5 untuk nuker tiket bareng teman satu trip. Antrian penukaran tiket ga seramai yang gue bayangkan dan cuma memakan waktu sekitar 10-15 menit. Masih ada waktu sampai open gate di pukul 11.00 WIB. Kami putuskan untuk cari makan dan ternyata ada satu komunitas yang bagi-bagi breakfast gratis untuk penonton (Thank you so much!).

freebies – project banner&flagticket

Seharian ini yang kami lakukan hanya menunggu. Open door ke venue pukul 13.00 WIB dan setelah masuk venue pun kami masih menunggu sampai konser dimulai pukul 15.00 WIB. Konser belum mulai saja rasanya udah capek duduk-berdiri terus. Tapi dengan keajaiban lampu yang dimatikan (tanda konser segera dimulai), tenaga seakan ter-recharge~

Seperti biasa, Super Show dibuka dengan VCR+Super Man yang selalu bikin merinding di part [결국 슈퍼주니어 The last man standing]. Setelahnya, The Crown berkumandang, menjadi opening song SS8. Seperti liriknya, [I’m ready for you now,] SS8!!❤

Gue sempet nonton beberapa video SS8 Seoul di Youtube dan ada anggota trip yang share list lagu jadi sedikit-banyak gue udah tau lagu apa aja yang akan dibawakan. Title song yang dibawa hanya dari Sorry, Sorry and of course sampai album Time Slip. Terlalu banyak momen berkesan di SS8 (semuanya bahkan!), tapi bagian yang paling gue suka adalah hip-hop part yang too funny to watch dan encore part (Show bikin merinding dan Too Many Beautiful Girls yang too many fanservice haha).

Cukup puas dengan kerja promoter di konser ini (dari awal beli tiket udah agak parno karena konser EXO kacau banget), kecuali bentuk tiketnya yang terlihat murah (kertas bukan gelang) untuk harga jutaan. Ada sedikit kerusuhan saat open door section Time tapi langsung di-handle dengan baik. Oh, satu lagi, baru kali ini nonton konser dikasih opening iklan dari sponsor udah kayak bioskop 🙂

Udah itu aja. Gue SANGAT PUAS nonton SS8 ini dan bahkan sudah terbesit di otak gue untuk nabung supaya bisa nonton SS9 di spot terbaik!✨ Thank you untuk semua yang sudah berkontribusi sehingga gue bisa bertemu lagi dengan my long-lost idol, SUPER GA MENYESAL!

Posted in Random

#MATA: Aku dan Bis

Jumat, 6 Desember 2019

Jumat kemarin menandai seminggu (kurang sehari) saya mulai magang di sebuah perusahaan startup. So far, I enjoy working there. Bisa masuk siang, pulang sebelum langit gelap, dan bebas jalan-jalan adalah kuntji👍 But, semua itu akan berubah ketika kantor pindah gedung. Sepertinya akan asik sih di gedung baru dan lebih deket dari rumah, tapi jam masuk jadi sedikit lebih pagi dan pulang lebih malam 😦

Mengingat hari ini last day di kantor lama dan jam kerja cuma half day karena semua staf sibuk packing barang buat pindahan, aku berencana untuk datang lebih pagi. Namanya rencana ya hanya rencana kalau ga dijalanin kan? Pagi itu aku bangun jam 6an but couldn’t push myself to move because my stomach aches so much (thanks period). Akhirnya ke kantor cuma seadanya kaos+jaket+celana+sendal dan langsung cus ke halte.

Sampai di halte dan masuk bis langsung merasa aneh karena bisnya sepi banget padahal masih jam 7.50an (bis berangkat per 30 menit sampai jam 9 pagi). Bad feeling mulai menyerang ketika udah lewat jam 8 dan bis belum berangkat. That’s mean either bis jam 8 udah berangkat entah jam berapa atau emang hari ini lagi ga ada bis jam 8. Pupus sudah harapanku datang lebih pagi ke kantor 🙂

Akhirnya bis berangkat jam setengah 9. Cuaca lagi mendung banget dan mungkin karena itu juga makin banyak yang bawa mobil dan membuat jalan super macet. Jujur degdegan karena udah jam setengah 10 dan masih di bis (biasanya jam segini lagi nunggu ojol). Bukan takut telat sih karena pasti masih keburu, cuma ga enak aja belom seminggu kerja tapi dateng lebih telat dari pic aku kan? hehe.

Setelah bermacet-macet ria, akhirnya aku turun di halte Fx seperti biasa dan lanjut naik ojol. Jam menunjukkan 10 menit sebelum jam 10 dan ojol ini malah hampir nyasar. Padahal dari awal aku udah bilang ikutin maps aja tapi si bapak dengan hebatnya literally ikutin maps tapi cuma diliat (tanpa directions) dan bingung sendiri harus kemana ketika liat jalan masih pada ditutup buat satu arah. Untung aku yang buta arah ini udh cukup apal jalan, jadilah sampai kantor jam 10an dan aman karena kantor masih sepi.

Karena half day, jam 2 udah dibolehin pulang. Mumpung half day juga, aku rencananya mau nonton tapi temen aku ga bisa nemenin. Jadilah kita meet up aja dan keliling mal. Sejauh ini mood masih super bagus karena tadi happy liat orang-orang kantor pada excited pindahan dan aku bisa catch up with my friend. Dengan perasaan super bagus ini aku melanjutkan perjalanan pulang dengan bis yang fortunately ga pake nunggu lama + sepi jadi bisa bobo di jalan deh.

Baru banget posting betapa senangnya naik bis kosong di instagram, ditinggal tidur bentar eh bangun-bangun bis super penuh. Aku naik bis tujuan Bekasi Timur sih emang, dan ya populasi manusia Bekasi yang kerja di Jakarta tuh sangat banyak jadi ga heran sih. Menuju halte BNN aku dengan bodohnya mencoba untuk turun dan transit ke bis Bekasi Barat padahal udah liat keadaan bis seperti itu dan keadaan halte yang jauh lebih parah. Itu satu halte isinya penuh orang nunggu bis Bekasi Barat semua astaga.

Bis Barat lewat tapi cuma bisa menampung kurang dari setengah manusia di halte BNN. Setengah jam lebih berlalu dan bis Barat datang lagi hanya untuk menurunkan penumpang dan ga sampai 10 orang yang bisa masuk 🙂 Meanwhile, manusia di halte BNN mulai padat lagi. Di saat itu juga saya menyadari kalau gantungan tas saya (boneka bulu kesayanganku) patah dan hilang entah dimana. Sedih+sebel sama diri sendiri kenapa dengan bodohnya turun dari bis Bekasi Timur dan malah gengsi kalau mau naik bis Timur lagi. Setelah berantem dengan diri sendiri akhirnya ngalah sama pride buat naik bis Timur yang kebetulan datang ga lama kemudian.

Akhirnya hari ini aku sampai di rumah lebih malam dibanding hari biasanya. Padahal aku main cuma sampai jam 6an (sama kayak jam pulang kantor biasanya tapi jaraknya lebih deket) 😦

Posted in Random

#MATA: Terkadang, Mengikuti Rencana adalah yang Terbaik

Sebelum title ibukota Indonesia yang dimiliki Jakarta berpindahtangan, aku ingin mengumpulkan segala drama ibukota yang aku alami (dan akan, maybe haha) dengan tagar #Mata (Drama Ibukota–and later Drama Jakarta).

Formatnya akan seperti jurnal atau cerpen atau bagaimanapun nantinya, tergantung situasi yang terjadi saat itu lebih nyaman saya tulis seperti apa hehe.

Mari kita mulai dengan drama yang sangat fresh di memori.

Kamis, 31 Oktober 2019

Hari ini, aku punya janji untuk datang ke wisuda dua sahabatku sejak SMA. Mereka bilang kalau prosesi selesai sekitar pukul 12 siang (saat aku tanya sehari sebelum acara), namun ketika aku chat lagi (sekitar pukul 10 pagi, di hari-H) tiba-tiba temanku bilang untuk segera ke sana. “Cepetan ke sinii, udh mau kelar,” she said.

Awalnya aku membuat plan untuk naik bus trans ke Jakarta pada pukul 11 pagi yang membutuhkan waktu sekitar 40 menit untuk sampai ke Sudirman dan lanjut naik ojek online ke venue. Voila, aku akan sampai sebelum pukul 12 siang. Namun, karena chat tersebut, aku langsung putar haluan naik kereta yang ‘biasanya’ memakan waktu lebih sedikit.

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke stasiun sekitar pukul 11 kurang. Sesampainya di stasiun, aku mendapati fakta bahwa kereta ini sedang ngetem hingga pukul 11.22. Saat itu rasanya ingin keluar lagi dan pindah ke halte bus, tapi sudah kepalang tanggung. Setelah (sedikit) panik dan berharap kereta ini tidak mengalami delay nantinya, akhirnya aku stay di kereta.

Kereta berjalan lancar dan hanya stuck sebentar saat mau memasuki stasiun Manggarai. Setelah itu aku langsung pindah jalur menunggu kereta tujuan ke Sudirman. Temanku yang tidak bisa hadir ternyata terus menelponku (ingin menitip hadiah) namun aku tidak sadar karena handphoneku ada di dalam tas. Saat itu pula aku melihat ternyata sudah pukul 12 siang. Fortunately, aku tidak perlu lama menunggu kereta dan langsung melanjutkan perjalanan.

Tidak sampai 5 menit, kereta tiba di stasiun Sudirman. Aku bergegas menaiki escalator dan exit di jalan raya Sudirman. Aku berjalan sedikit ke dekat jembatan transjakarta untuk menunggu ojek online. Waktu menunjukkan pukul 12.20 ketika aku menghubungi temanku. Dia sudah keluar, katanya. Oke, aku akan sampai sekitar setengah satu, pikirku.

Namun ternyata, drama dimulai. Setelah menunggu hampir 10 menit, driver meminta aku untuk meng-cancel order. Aku dengan sedikit panik campur sebal, tidak mau dong kalau harus menunggu driver selanjutnya. Driver baru menjelaskan kalau banyak jalan yang ditutup sehingga dia tidak bisa menjemput. Dengan berat hati akhirnya aku cancel. Tidak lama, aku mendapat driver baru yang jaraknya cukup dekat.

Matahari Jakarta saat itu sedang terik dan mengakibatkan handphoneku overheat dan sedikit error. Saat sedang bergumul dengan handphone yang touch screennya mengalami problem, aku mendengar seorang driver meneriakkan namaku. Otomatis, aku langsung menghampiri dan mengkonfirmasi (dengan namaku) lalu menaiki motornya. Sepertiga jalan, aku kembali melihat handphoneku dan mendapati driverku belum sampai lokasi pick up. Ah, kayaknya masih error nih, pikirku. Namun ada satu hal lagi yang mengganjal. Sebenarnya aku baru sadar kalau plat motornya berbeda dan aku mengabaikannya karena tidak sekali dua kali driver yang platnya berbeda dengan di aplikasi. Kuputuskan untuk bertanya saja ke driver, “mas kok platnya beda ya sama di aplikasi? ini ga salah kan?”. Driver menepis dengan menyebutkan nama dan tujuan saya dan keduanya benar. Aku hanya bisa mengiyakan walaupun masih sedikit panik kalau ternyata salah driver, dan benar saja aku mendapat notifikasi kalau driverku baru sampai lokasi pick up dan driver yang sedang mengantarku ini mendapat telepon dari customernya. Akhirnya kami benar-benar sadar dan yakin kalau kami berdua salah 🙂

Driver sedikit mengebut kembali ke tujuan awal (yang utungnya belum terlalu jauh walaupun harus memutar di trotoar, maaf ya pejalan kaki). Aku sedikit berlari ke arah driverku yang sesungguhnya dan kembali memulai perjalanan menuju venue dengan kondisi jalan Sudirman yang semakin macet. Aku masih tak habis pikir, bisa-bisanya aku salah naik (karena nama dan tujuan yang sama pula) dalam kondisi terburu-buru seperti ini.

Setelah menembus kemacetan di berbagai titik dan lampu merah, aku sampai di venue sekitar pukul 1 kurang (lewat 1 jam dari rencana awal /sigh/) dan masih harus menunggu kiriman hadiah dari temanku yang tidak bisa datang itu. Aku kembali menghadapi driver yang membuat bingung. Driver meminta bertemu di depan pintu gerbang, namun ketika aku menunggu di pintu gerbang driver tersebut malah menjawab “tanya gerbang aja dimana”. Padahal aku jelas berkata kalau sudah sampai gerbang. Setelah beberapa miskom selanjutnya, akhirnya kami berhasil bertemu.

Venue terlihat sudah agak sepi saat aku masuk. Aku langsung menelpon kedua temanku seara bergantian yang dua-duanya tidak mengangkat saat aku telepon namun malah menelpon balik ketika aku menelpon yang lain. Jadi semua telepon kami hanya menjadi missed calls karena bertabrakan. Akhirnya aku putuskan untuk menunggu telepon saja.

Di tengah telepon sambil berusaha mencari manusia-manusia ini, aku bertemu beberapa teman SMAku dan sedikit menyesal karena hanya bisa tegur sapa saja. Untunglah, tidak butuh waktu lama untuk menemukan mereka dan pas sekali karena temanku yang satunya sudah mau pulang.

Hari ini aku sadar bahwa tidak semua hal yang spontan berujung baik. Jika sudah mempunyai rencana yang jelas dan matang, akan lebih baik kalau dijalankan sesuai rencana saja oke? Lesson learned.

Posted in Random

Sunday Well Spent ft. ICC 2019

Finally, I’m back! It’s been a while since I got stuck and wasn’t able to write anything. And here I am trying to write anything that pops in my head while listening to some upbeat songs.

A few days ago, I went to my first Comic Con in Indonesia. Indonesia Comic Con (ICC) 2019 was held from October 12 to 13. I went on Sunday (day two) because my friend’s graduation happened on the same day. Honestly, I didn’t plan to go to Comic Con, it was a spontaneous act, and it turns out to be the best festival that I ever went to.

After I went to my friend’s graduation–congratulated her, gave her present, and took photos together–which was held on the same venue (different hall), I and my other friends redeem the tickets and ready to have fun!!

I, literally, just went there and don’t know what to do. So I just ended up seeking freebies at first. I got coffee, ice cream, stickers, and lighters. Some booth giving it for free and some giving it through games. From Bumilangit booth for example, there was Sri Asih Punching Bag Challenge which gave free lighter for every challenger. If we got a score higher than the set target, we got the better prize such as a bag or t-shirt.

When I realize that there were Marvel’s booth and other booths which selling Marvel’s merchandises, I got excited. I looked for Iron Man’s merch but it got sold out so fast 😦 I don’t know there are so many Iron Man fans here. At least, I got a very cute glow-in-the-dark Groot’s tee so I feel satisfied.

While walking around the booths, there was a performance in Wonder Stage by DJ Orutaku. The DJ got everyone’s attention by playing some 90’s anime OST and remixing some of it with dangdut (Indonesian folk genre). It was so splendid and made me feeling nostalgic. Then, I got excited when I found a booth (sorry, I forget the name) which selling key chains, magnets, and earrings of Indonesian snacks, drinks, foods, and even some fast foods. It’s so cute and got me to spend my money to buy one. (Thank you, cute things indeed my weakness)

Another booth that wowed me was Eastwood Gun’s. They made DIY wood guns loaded by rubber bands. OMG, it was WOW! I can’t remember the guns’ type, so you can check it on their Instagram if you are interested. The creator said that their guns got sold out just in two hours after Comic Con’s opening. I wasn’t shocked because it was THAT awesome. You must try it for yourself!

I didn’t realize, I spend way too much time (than what I planned) there. It past 6 PM when we decided to go home because one of us still have an exam the next day. Before we went back, we walked around the official booths section (there was official booths and community booths) for one more time, because we spend more time in community booths (it’s cheaper! hehe). I went to Marvel’s booth once again and still couldn’t find my Iron Man 😦

Then I went to Line’s booth and saw their event. You got a random prize (by spinning the wheel) if you buy one official sticker. I tried it, hoping I got Brown cushion, but my not-so-good-luck gave me Brown hand fan. Actually, before we decided to go home, I saw my favorite comic artist staying in Bumilangit’s booth. I really want to take a picture together but got scared it bothers him (also, he was surrounded by the staff).

After some feeling of shyness and scared moment, I suddenly got my courageness after winning the hand fan. I went back to Bumilangit’s booth and luckily he wasn’t surrounded by the staff anymore. I went to him and asked him to take a picture together and he agreed. Wah, I feel so happy at that moment. I tried to talk to him but the nervousness win me and I was speechless–and the situation got awkward when my mouth just mumbling words I-don’t-even-remember-what. I thanked him and run to my friend. I can finally go home at peace now, I thought. My heart was still fluttering til exit door.

Remembering this, it just so funny I got so excited with someone I could meet anytime rather than the guest stars. I don’t even care when the guest stars appear on stage (I’m sorry). But, it was the best way to end Comic Con for me haha. I went to several similar events but I think Comic Con was my best experience. I never-ever went to an event that made me forget about the time.

Thank you for my friend who just graduated, you are the reason I could go to Comic Con, and also for my two other friends who accompanied me. It was a wonderful weekend!

Posted in Random

My very first me-time~

For the first time in my 22 years’ life, I went to a Mall ALONE. Maybe it is not a big deal for most people, but it is for me.

I don’t know why, I can do it when I am in Bandung but when I am in Bekasi it just feels weird to going out alone. My mom would react “why did you go out alone?” too. In that moment I really feel like I have no friends😢

I just wanna have a me time, really. And I want to spend my discount vouchers which expired that day.

When I arrived, I went to the book store. There are novels which I stupidly bought the first and third books. I want to buy the second book but wasn’t able to find it there. I decided to move to another mall across this mall. Unfortunately, I couldn’t find it here too.

But I found something more interesting. it was GUNDALA comic book : movie edition! Oh my gosh, it was so good! I shivered while reading that comic book. AND it answered every questions that I have when I watched the movie. YOU MUST READ THE COMIC IF YOU LOVE GUNDALA!

After spending so much time in the book store, I went to buy a drink. I tried Gulu-Gulu after craving it for some time. I’m not a big fan of sweets, but once in a while I crave it haha. I tried the Cheese Red Velvet for free~ (big thanks to Dana’s 100% cashback) and it was good! The red velvet wasn’t too sweet, plus the cheese was salty which made the drink less sweet. Surprisingly, it was a nice combi. When you drink it together, they’re complement each other! Now, I crave this drink again😂

Then, I wandered and decided to do window shopping. I went to a drugstore and found out that a brand did a free skin check. I want to try but it was so crowded. When I walked to make up section, I found a bb cushion that I really want to buy was getting discount (almost 50%). Excited, I called the BA and asked for it but she said that I should go straight to the cashier to buy it. There was a pretty long line in the cashier. I wait patiently in the line for 15 minutes(ish). You know what, when I said what I want to buy, the cashier, straightforwardly said, “It’s out of stock, miss.”

Oh. My. God. I’m. Speechless. HOW COULD THE BA NOT TELLING ME THAT IT WAS OUT OF STOCK ?! I waste my time lining in the cashier for nothing.. I would just line in the free skin check if I know.. Thanks to Gulu-Gulu, I can suppressed my annoyance.

After wandered in the mall for I-don’t-know-how-long, I chose to going back. The sun had already set and I didn’t want to stuck in traffics. I ordered an online transportation and wait for awhile. In a traffic, the driver suddenly asked me “You go to the mall alone, miss?”. Is he a shaman?, I thought. That was so random but straight to the point. It just, I feel sad when he asked me like that. It was Sunday night and I went alone to a mall where you can easily found couples.

Actually, my very first reason for going out alone is to go to the cinema. But, suddenly I lost interest. The movie(s) which I want to watch was either too lovey-dovey or too jump-scaring to watch alone. (I hate jump scare 😔)

So, that’s it! It was my first experience of going to mall alone in Bekasi~ Will I go to mall alone again? I don’t know. It was so good that I was able to have a me-time, but honestly, I need someone to talk to (especially when I excited) haha.