Posted in Beauties

Cushion For Indonesian Skin!

Setelah sekian lama maju mundur beli cushion ini atau ngga, akhirnya ku putuskan untuk beli (kebetulan sedang promo juga hehe)

Aku beli Purbasari Pore Perfecting BB Cushion shade nomor 3, Caramel. Sejujurnya galau mau beli shade nomor 2 atau 3, tapi akhirnya beli yang tergelap karna takut keterangan. Turns out, shade 3 was too dark for me 😢

Aku mau sedikit review tentang cushion ini~

First, walau warnanya terlalu gelap di kulit aku, tapi undertonenya masih cocok jadi bisa diakalin pakai concealer yang lebih terang. Menurut aku, coverage cushion ini medium dan bisa dibuild up. Teksturnya cukup cair jadi ngga cepet ngeset saat diapply dan mudah dibaur ke wajah. Hasil akhirnya matte tapi ada sedikit glow, kalau tipe kulit kalian ga berminyak, ga diset pakai bedak juga udah cakep!

Second, aku suka packagingnya. Simple, yet elegant. Puffnya juga lumayan empuk dan ngga menyerap banyak produk. Aku cuma butuh dua kali tap buat cover muka aku.

Next, mari bahas claimnya! Cushion ini mengklaim bahwa ini dapat mengurangi sebum, menyamarkan pori-pori, dan melindungi kulit dari efek buruk sinar matahari, Kulit tampak lebih elastis, halus, lembab, dan bercahaya.

Mengurangi sebum? Cushion ini cukup menahan minyak di oily skin aku. Aku pakai sekitar 7 jam, dan baru mulai oily di bagian T-Zone sekitar jam ke-6. Di jam ke-7, daerah pipi dekat hidung dan dagu mulai oily juga.

Menyamarkan pori-pori? Saat selesai make up, aku bener-bener merasa flawless, selama ga diliat secara zoom haha. Cushion ini cukup menyamarkan pori-pori kok, tapi ngga yang sampai jadi manusia tanpa pori-pori (mungkin bisa kalau kamu pakai berlayer-layer). Pori-pori aku mulai visible sekitar jam ke-6.

Melindungi kulit dari efek buruk sinar matahari? Aku ngga bisa confirm claim ini sih, karna aku pasti pakai sunscreen sebelum make up (kalau pagi-siang). Cushion ini sudah include sunscreen SPF 18 PA+++ untuk kamu yang ngga mau pakai sunscreen. But guys, sunscreen is a must for your skin! Don’t skip it!

Kelebihan cushion ini (di luar klaimnya) yang aku rasakan adalah entah kenapa at the end of the day, warnanya makin menyatu sama kulit aku (at least sama kayak warna leher–aku cuma apply di wajah). Banyak yang bilang ini oksidasi jadi makin gelap, tapi di aku oksidasinya jadi warna kulit. Lalu, yang paling aku suka adalah make up di daerah hidung ngga cepet luntur dan gumpal! Aku selalu pakai kacamata, dan problem utama setiap manusia berkacamata adalah make up yang luntur karna gesekan kacamata but yang ini ngga! Make upnya emang sedikit luntur sih, tapi ngga yang sampai menggumpal. I love it!

Lalu, kekurangannya adalah make up ini kurang cocok dipakai untuk acara seharian, terlebih kalau kalian tipe yang malas touch up. Make up aku terlihat masih bagus sampai sekitar jam ke-5, mulai jam ke-6 make up sudah mulai luntur dan oily. Seperti yang aku tulis sebelumnya, di jam ke-6 pore mulai visible, kemerahan di wajah aku juga mulai terlihat. Belakangan ini kulit aku mulai berubah ke arah kombinasi, jadi aku selama pakai cushion ini cuma set bedak di daerah bawah mata dan hidung. Next time aku akan coba set satu muka dan lihat apakah bisa memperpanjang ketahanannya.

Jam ke-5 (kiri tanpa flash, kanan dengan flash)

Last, aku suka banget cushion ini! (despite the wrong shade) Plus, harganya affordable dan undertonenya cocok banget sama kulit masyarakat Indonesia. So proud, akhirnya produk lokal mau release warna dengan undertone warm!

Kalau kalian mau beli, produk ini sudah tersedia di Watson atau kalian bisa beli di Official Online Store Purbasari~

Posted in Random

My very first me-time~

For the first time in my 22 years’ life, I went to a Mall ALONE. Maybe it is not a big deal for most people, but it is for me.

I don’t know why, I can do it when I am in Bandung but when I am in Bekasi it just feels weird to going out alone. My mom would react “why did you go out alone?” too. In that moment I really feel like I have no friends😢

I just wanna have a me time, really. And I want to spend my discount vouchers which expired that day.

When I arrived, I went to the book store. There are novels which I stupidly bought the first and third books. I want to buy the second book but wasn’t able to find it there. I decided to move to another mall across this mall. Unfortunately, I couldn’t find it here too.

But I found something more interesting. it was GUNDALA comic book : movie edition! Oh my gosh, it was so good! I shivered while reading that comic book. AND it answered every questions that I have when I watched the movie. YOU MUST READ THE COMIC IF YOU LOVE GUNDALA!

After spending so much time in the book store, I went to buy a drink. I tried Gulu-Gulu after craving it for some time. I’m not a big fan of sweets, but once in a while I crave it haha. I tried the Cheese Red Velvet for free~ (big thanks to Dana’s 100% cashback) and it was good! The red velvet wasn’t too sweet, plus the cheese was salty which made the drink less sweet. Surprisingly, it was a nice combi. When you drink it together, they’re complement each other! Now, I crave this drink again😂

Then, I wandered and decided to do window shopping. I went to a drugstore and found out that a brand did a free skin check. I want to try but it was so crowded. When I walked to make up section, I found a bb cushion that I really want to buy was getting discount (almost 50%). Excited, I called the BA and asked for it but she said that I should go straight to the cashier to buy it. There was a pretty long line in the cashier. I wait patiently in the line for 15 minutes(ish). You know what, when I said what I want to buy, the cashier, straightforwardly said, “It’s out of stock, miss.”

Oh. My. God. I’m. Speechless. HOW COULD THE BA NOT TELLING ME THAT IT WAS OUT OF STOCK ?! I waste my time lining in the cashier for nothing.. I would just line in the free skin check if I know.. Thanks to Gulu-Gulu, I can suppressed my annoyance.

After wandered in the mall for I-don’t-know-how-long, I chose to going back. The sun had already set and I didn’t want to stuck in traffics. I ordered an online transportation and wait for awhile. In a traffic, the driver suddenly asked me “You go to the mall alone, miss?”. Is he a shaman?, I thought. That was so random but straight to the point. It just, I feel sad when he asked me like that. It was Sunday night and I went alone to a mall where you can easily found couples.

Actually, my very first reason for going out alone is to go to the cinema. But, suddenly I lost interest. The movie(s) which I want to watch was either too lovey-dovey or too jump-scaring to watch alone. (I hate jump scare 😔)

So, that’s it! It was my first experience of going to mall alone in Bekasi~ Will I go to mall alone again? I don’t know. It was so good that I was able to have a me-time, but honestly, I need someone to talk to (especially when I excited) haha.

Posted in Gallery, Trip

[TRIP] Where to Go? #Malaysia Edition

View from Apartment

I’ve been organizing my files when I found this old album when I went to Malaysia with my fam. Foto-foto yang aku temukan ga terlalu banyak but it’s enough to bring back memories. Mumpung sedang nostalgia, sekalian aja aku share pengalaman aku trip ke Malaysia two years ago, okay?

Malaysia bukan luar negeri pertama yang aku kunjungi, yang pertama adalah Singapura. Memang ya, ketika kita berkunjung ke luar kota atau luar negeri, hal pertama yang kita lakukan adalah comparing them with another places (usually tempat tinggal kita). Saat pertama mendarat di Kuala Lumpur, aku otomatis membandingkan suasanya Kuala Lumpur dengan Singapura. Perbedaan yang paling mencolok adalah transportasi umumnya. This country really really similar with Indonesia! Coba tebak transportasi umum apa yang paling banyak digunakan turis (saat itu)? If your answer is online transportation, yeah you guess it right. Sebenarnya ada kereta dan bis, namun sayangnya, jangkauannya ga sampai ke tempat-tempat wisata seperti di Singapura. Okay, let’s stop comparing Malaysia and Singapore.

Seingatku, aku di Malaysia sekitar satu minggu. Selama seminggu itu, kami menginap di suatu apartemen di daerah Alor dengan harga yang cukup affordable. Apartemennya berisi dua kamar tidur (one queen bed and one jack bed), dua kamar mandi shower (plus hairdryer), ruang makan, ruang tamu, dan dapur full furnish (kompor listrik, cutlery, knives, coffee, tea, snacks, everything!). Oh, the scenery from this apartment was so beautiful. This apartment is still the best apartment for me until now!

Kalau kamu berencana berkunjung ke Malaysia, kamu wajib ke jalan Alor buat coba street food! Walaupun saat itu sedang bulan puasa, para pedagang tetap berjualan seperti biasanya. Dari pukul tiga sore, jalan Alor akan berubah menjadi surga pecinta kuliner. Oh ya, ga cuma street food aja kok yang di jual, kalau kamu ke jalan utamanya, kamu akan lihat di sebelah kiri ada deretan restoran dan di sebelah kanan deretan street food. Semakin malam, tempat ini akan semakin ramai dengan pengunjung, tapi ga perlu khawatir karena selama di sana aku ga pernah sampai waiting list (hehe).

Let’s talk about beberapa tempat wisata di Malaysia, khususnya Kuala Lumpur. Another must visit places are Kuala Lumpur Tower and Petronas Twin Towers! Siapa sih yang ga penasaran sama landmarknya negara ini? Sayang, aku cuma berkesempatan untuk masuk ke Kuala Lumpur Tower. Kuala Lumpur Tower ini sebenarnya mirip sama Monas, kita bisa naik dan berfoto di atas jika membeli tiket. Setelah naik ke atas dengan lift, kita bisa melihat pemandangan kota dengan mata telanjang atau pun dengan teropong yang disediakan. Bedanya, di ruangan tersebut ada beberapa pedagang yang berjualan souvenir dan di dinding ruangan tersebut terdapat wallpaper dengan gambar-gambar menarik yang biasa digunakan turis untuk berfoto juga. Kalau mau datang dan berfoto di sini, datangnya waktu malam ya, pemandangannya lebih cakep!

Kamu pecinta bangunan-bangunan megah atau bersejarah? Coba datang ke Istana Negara atau Thean Hou Temple. Kamu ga akan bisa masuk ke dalam istana negara sih, tapi kalau mau foto-foto di depannya bisa kok! Tenang, kalau Thean Hou Temple bisa kamu datangi dan masuk tanpa dipungut biaya. Pertama menginjak kaki ke klenteng ini, aku benar-benar kagum dengan arsitekturnya. Cantik banget! Klenteng ini didominasi warna merah seperti klenteng pada umumnya, tapi rasanya klenteng ini punya aura yang berbeda dan bikin nyaman stay lama di situ. Klenteng ini cukup besar, terdiri dari tiga lantai, dan semua tempatnya sangat instagramable. Tapi hati-hati ya, di lantai atas ada ruang untuk berdoa, lebih baik menunggu saat tidak ada orang yang berdoa jika ingin foto-foto di ruang itu (hehe).

Sebenarnya, ada satu tempat megah lagi yang wajib kamu kunjungi yaitu Batu Caves, namun letaknya ada di Selangor (kamu bisa naik kereta kalau ke sini). Siap-siap olahraga kalau datang ke sini, tangganya banyak! Saat aku berkunjung, Gua ini masih dalam masa pembangunan jadi tidak secantik saat ini (tangganya belum warna-warni).

Makanan, sudah. Bangunan megah juga sudah. Berarti tinggal tempat shopping! Tempat shopping utama di Kuala Lumpur ada di daerah Bukit Bintang. Ada kejadian lucu ketika kakak aku bertanya pada owner tentang tempat wisata di Kuala Lumpur. Owner merekomendasikan tempai bernama Sungai Weng. Tanpa search google, kami langsung naik kereta menuju tempat tersebut, berekspektasi kalau tempat ini mungkin seperti Sungai Han di Korea yang asik untuk strolling sore. Anehnya, kereta semakin menuju ke kota dan kami berakhir di daerah Bukit Bintang yang berisi mall, dengan salah satu mall bernama ‘Sungai Weng’. Akhirnya niat kami untuk strolling berakhir dengan shopping. Lesson learned, better search it first next time.

Selain daerah Bukit Bintang, kamu juga bisa coba ke Petaling Street, Chinatownnya Kuala Lumpur. Cari makanan non-halal? Di sini tempatnya. Last, di bagian utara Kuala Lumpur, ada daerah bernama Genting Highlands. Untuk sampai di sini, aku pesan transportasi online, lalu lanjut naik kereta gantung. Pemandangan saat di kereta gantung bagus banget deh! Sebenarnya, Genting terkenal akan kasinonya, tapi kamu bisa keliling di mall aja kok, ga perlu masuk kasino kalau ga mau. (hehe)

Sedikit banyak, itu tempat-tempat yang aku kunjungi selama di Malaysia. Sayang, aku ga bisa kasih lihat semua tempat karena foto yang aku temukan di album ini sedikit. Kalau ada kesempatan, silakan datang sendiri dan nikmati suasana tempat-tempat tersebut ya!

Posted in Entertainment

This is not a Superhero Movie – #Gundala

source : imdb

This is not a superhero movie, this is a movie about superhero.

– someone on twitter, 2019

I found someone tweet that and can’t help to agree. But for me, Gundala (2019) is a pre-Gundala movie. Ini adalah episode 0 atau kalau di komik/novel biasa disebut prolog.

Seperti biasa, review film ini hanya based on pengalaman dan perasaan selama aku tonton. Aku pun bukan pembaca komik Gundala orisinil karya Hasmi, namun sebelum akhirnya memutuskan menonton film ini, aku menyempatkan diri menonton Gundala Putera Petir (1981). Hanya untuk mengetahui cerita orisinilnya actually, but turns out it was interesting.

Plot wise, the 1981’s is more relatable and logical than the 2019’s. I like the idea about spreading a threat serum, but why you chose “Amoral Serum” from all kind of possible names you can choose. Moral bukan sesuatu yang bisa diukur dan bahkan tanpa disuntik serum itu pun, sebagian manusia memilih untuk amoral bukan? (haha). Agak menyayangkan kenapa ga memakai serum or drug pembangkit amarah seperti yang ada di webtoon? It is far more logical and developable. (For anyone who curious about the 1981’s plot, it is about an anti-morphine serum.)

Lalu, pace film ini lambat sekali. Joko Anwar keliatannya sangat fokus menceritakan tragedi kehidupan Sancaka, sampai aku kira ada perubahan dari cerita orisinil dan Sancaka sudah memiliki kekuatan Gundala sedari kecil. Ternyata salah. Pada akhirnya background story Sancaka yang sangat panjang tersebut tidak menghasilkan apa pun kecuali adegan pertemuan dengan Awang yang mengajarinya bela diri. Sisanya hanya membuat saya bertanya-tanya dan ber-“hah?”-ria. Banyak adegan yang sebenarnya tidak perlu dimasukkan tapi entah mengapa dimasukkan padahal tidak berpengaruh terhadap plot kedepannya.

Tapi semua itu termaafkan karena kegemasan Sancaka kecil dan ketampanan Sancaka besar (haha bercanda). Aku suka banget sama karakter Pengkor. Background storynya bahkan diceritakan dengan jauh lebih baik dibanding milik tokoh utama. Sayang, anak-anak bapak kurang diceritakan, dan pertarungan mereka dengan Sancaka pun sangat sangat seadanya. Setidaknya aku butuh proper introduction for the upcoming villains (or could be allies), bukan hanya individual shoot about their job/speciality. And, I wish Pengkor have a grand finale, ga cuma mati ketembak gitu aja😔

Pada akhirnya Gundala (2019) rasanya lebih tepat kalau diberi judul Sancaka. The plot was really just focusing about Sancaka’s journey becoming hero (from what Ghazul said, he wasn’t even aware that he is Gundala). Sancaka hanya tau kalau petir bisa membuatnya kuat, belum bisa mengendalikan petir, dan masih bertumpu pada kemampuan bela dirinya. A typical human who acts as local hero, right? Not a superhero yet.

Berbicara soal Ghazul, dia benar-benar menaikkan mood saat menonton karena membuat kita berekspektasi tinggi (lagi) akan film selanjutnya (of course Sri Asih too!). Tapi yang sedikit miss adalah Ghazul yang dari awal bersama Pengkor, di tengah cerita bergerak sendiri dengan memanfaatkan Ganda untuk kepentingannya. Jadi Ghazul ini anak durhaka yang ga mau bantu bapaknya begitu?

Oh, yang membuat aku bingung (banget) adalah there is no secret in this universe? Bagaimana bisa Ridwan mendapat nomor Sancaka (yang pertama kali ia temui dalam wujud Gundala), begitu pula dengan Pengkor yang datang ke tempat kerjanya, dan Ghazul yang mengambil darahnya di tengah perkelahian? Like, how could they possibly now that Sancaka is the hero?

Lalu kostum Gundala tuh fungsinya cuma sebagai penangkal/penyerap petir ya bukan untuk menyembunyikan identitas? He didn’t fucking care if people know his identity. Atau karena dia belum menjadi Gundala jadi dia cuek? About costum, I’ve read that Joko Anwar bilang dia mau membuat Gundala yang make sense sih (kostumnya ga turun dari langit atas pemberian Raja Petir seperti di 1981). But that means, Sancaka lebih seperti Spiderman ya bukan Thor.

Overall, film ini aku kasih nilai 7/10. It is a nice start for opening Jagat Sinema Bumilangit, and for that I give 0.5 points more. Why? Karena menurut aku fokus pembuat film ini sudah jauh ke depan (yang sayangnya jika dinilai dalam satu film akan kurang memuaskan), film ini benar-benar berfungsi sebagai pembuka jalan untuk film-film selanjutnya (hampir setengah key characters Jagat Sinema Bumilangit diperkenalkan di sini). So, it is 7.5/10.

Semoga film selanjutnya bisa mengangkat plot yang lebih matang dan menarik, ga cuma mengandalkan nama besar jajaran pemain aja ya!😉